Sebuah cerita pendek yang ramai dituduh di media sosial sebagai hasil kecerdasan buatan (AI) justru memenangkan penghargaan utama Commonwealth short story prize.

Karya berjudul The Serpent in the Grove karya Jamir Nazir itu menjadi viral setelah diumumkan sebagai pemenang regional pada pertengahan Mei.

>>> Crate Angel Devil PUBG Mobile Rilis 1 Juli 2026, Hadirkan Skin Mythic

Kritik di platform X dan Bluesky menyoroti pola gaya bahasa yang dianggap menunjukkan ciri-ciri buatan mesin.

Akibat reaksi tersebut, majalah sastra Granta mundur dari kemitraan lamanya untuk menerbitkan karya para pemenang kompetisi.

Commonwealth Foundation kemudian melakukan tinjauan internal terhadap para pemenang regional. Mereka mengevaluasi draf, dokumen bertanda waktu, dan catatan penulis untuk memverifikasi keaslian.

Direktur Jenderal Commonwealth Foundation Razmi Farook mengatakan, "Kami puas dengan kesaksian para penulis dan konfirmasi mereka bahwa AI tidak digunakan dalam penulisan."

Dengan kemenangan ini, Nazir menerima tambahan hadiah £2.500. Jumlah itu melengkapi £2.500 yang ia raih saat memenangkan kategori regional Karibia bulan lalu.

Ketua juri Louise Doughty memuji karya tersebut sebagai "cerita orisinal, puitis, dan sangat menyentuh."

Para kritikus online menyoroti pola linguistik berulang, seperti struktur "bukan x, tetapi y" dan daftar tiga hal, sebagai bukti generasi otomatis.

Mereka juga menyebut kalimat seperti "Sun on galvanise is a cruel instrument" dan "She had the kind of walking that made benches become men."

Dalam film promosi yang dirilis penyelenggara, Nazir menyebut pengarang legendaris VS Naipaul dan Derek Walcott sebagai pengaruh kreatif utama.

Penulis menjelaskan bahwa ia membuat enam atau tujuh draf, menggunakan perangkat lunak speech-to-text di ponsel.