"Dengan tibanya tahun El Niño...

kita dapat mengharapkan 2026 menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat," kata Simon Van Gennip, oseanografer utama Copernicus Marine Service.

>>> Terungkap! PPPK di Bekasi Tewas Dicekik Pria yang Dikenal Lewat MiChat

"Ini disebabkan oleh El Niño, tetapi juga oleh pemanasan akibat emisi gas rumah kaca yang terus kita sumbangkan ke atmosfer," imbuhnya.

Laporan ini menyusul peringatan dalam sebuah penilaian ilmiah besar PBB bulan lalu.

Penilaian itu menyebut lautan dunia tengah mengalami "krisis yang semakin dalam" karena pemanasan dan kenaikan permukaan laut berlangsung semakin cepat.

Lautan merupakan pengatur utama iklim Bumi karena menyerap sekitar 90 persen kelebihan panas yang dihasilkan oleh emisi gas rumah kaca.

Lautan yang lebih hangat meningkatkan kelembapan di atmosfer, menyediakan bahan bakar bagi siklon tropis dan curah hujan yang merusak.

Suhu laut yang lebih tinggi juga berkontribusi langsung pada kenaikan permukaan laut.

Kondisi ini menciptakan keadaan yang tak tertahankan bagi terumbu karang tropis, yang dapat memutih dan mati selama gelombang panas laut yang berkepanjangan.

Selama paruh pertama tahun ini, gelombang panas laut tersebar luas dan mempengaruhi sekitar 82 persen lautan dunia.

Ini menjadi yang terluas kedua setelah 2024.

Mediterania mencetak rekor bulan Juni-nya tersendiri dengan suhu 24,3 derajat Celcius.

Angka itu melampaui rekor 2023 dan 2025.

Gelombang panas laut melanda 98 persen kawasan tersebut selama enam bulan pertama tahun ini.

Sebuah gelombang panas laut yang melanda Mediterania barat laut bahkan memecahkan rekor intensitas pada Senin lalu.

Samudra Pasifik tropis juga mencatat Juni terpanasnya di angka 27,26 derajat Celcius.

>>> 5 Tewas saat Latsarmil, Kemhan Gelar Investigasi Internal

Angka itu menyamai rekor periode Januari-Juni 2016.