Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief mengungkapkan bahwa industri manufaktur nasional menghadapi tantangan yang lebih berat pada Juni 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.

Menurut dia, jika pada Mei 2026 tekanan terutama berasal dari sisi produksi, maka pada Juni industri harus menghadapi tekanan secara bersamaan dari sisi produksi maupun permintaan.

>>> Google Uji Coba Gmail Live untuk Android dan iOS, Ini Fungsinya

"Pada Juni 2026, industri menghadapi tantangan yang lebih banyak dan lebih berat dibandingkan Mei.

Tantangannya tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari sisi permintaan," ujar Febri di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Tekanan dari Sisi Produksi dan Permintaan

Dari sisi produksi, industri masih dibayangi kenaikan harga energi global yang berdampak pada meningkatnya harga bahan baku impor.

Kondisi tersebut diperburuk oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang turut meningkatkan biaya produksi.

>>> Warga 16 Negara Ini Bisa Masuk Indonesia Tanpa Visa, Termasuk Kamboja

Selain itu, industri juga menghadapi gangguan tambahan berupa pemadaman listrik di sejumlah kawasan industri selama Juni 2026.

Menurut Febri, gangguan pasokan listrik tersebut membuat sebagian pabrik terpaksa menghentikan aktivitas produksinya untuk sementara waktu, terutama industri yang sangat bergantung pada pasokan listrik sebagai sumber energi utama.

"Pemadaman listrik yang terjadi menyebabkan sebagian industri berhenti berproduksi selama gangguan berlangsung, khususnya industri yang energinya berasal dari listrik," katanya.

Meski menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus, yakni produksi dan permintaan, Kemenperin menilai sektor manufaktur nasional masih menunjukkan daya tahan yang kuat.

>>> Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun, Hotman Paris: Saya Sudah Peringatkan

Resiliensi tersebut tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2026 yang tetap berada di zona ekspansi.