Self-care tidak harus mahal seperti ke spa atau piknik.

>>> 11 Negara ASEAN dengan Penderita Diabetes Terbanyak, Indonesia Peringkat 4

Mulailah dari hal kecil, seperti menarik napas dalam selama dua menit, meditasi, mandi dengan tenang, atau berjalan kaki.

Rutinitas sederhana ini membantu tubuh dan pikiran lebih rileks. Jika dilakukan konsisten, self-care dapat menjadi 'rem' agar stres tidak terus menumpuk.

5. Bangun koneksi singkat dengan anak.

Luangkan dua menit perhatian penuh untuk setiap anak setiap hari. Momen ini bisa berupa obrolan, pelukan, atau mendengarkan cerita mereka tanpa distraksi.

Kebiasaan ini membantu anak merasa diperhatikan dan mengurangi rasa bersalah karena merasa jadi orang tua yang buruk.

Tutup momen itu dengan kalimat sederhana seperti, 'Ibu/Ayah senang punya waktu ini dengan kamu.'

6. Terapkan batasan gawai yang konsisten.

Aturan gawai yang jelas dapat mengurangi pertengkaran di rumah. Buat batasan singkat, mudah diingat, dan konsisten, misalnya tidak boleh pakai gawai setelah jam enam sore.

Aturan yang stabil membantu anak memahami batasan sekaligus membuat rutinitas lebih tertata.

7. Buat waktu off-duty untuk diri sendiri.

Atur satu hari khusus setiap minggu untuk menentukan kapan Anda tak perlu menjadi orang tua 'on duty'.

Gunakan waktu tersebut untuk benar-benar istirahat, keluar rumah, atau melakukan hal yang Anda sukai.

Jika memungkinkan, tukar shift jaga anak dengan teman atau keluarga yang bersedia membantu. Waktu off-duty yang disengaja sangat membantu mengurangi tekanan dari parenting burnout dan memulihkan energi.

Mengatasi parenting burnout bukan soal menjadi orang tua yang selalu kuat, tetapi tentang tahu kapan harus berhenti, meminta bantuan, dan merawat diri sendiri.

>>> Lolos 16 Besar, Norwegia Bawa 300 Kg Ikan ke Piala Dunia

Semakin cepat Anda mengatasinya, semakin besar peluang untuk menjaga emosi tetap stabil.