"Yang kedua, memang ajakannya kan sudah dari awal disampaikan di situ untuk main bola di jalan di depan Grahadi.

Kan logikanya orang itu jalan raya. Bagaimana mengajak bermain bola di situ?

," ujarnya.

Luthfie kemudian merujuk pada penampilan fisik sebagian massa sebagai indikator tambahan kecurigaan aparat.

Penggunaan hoodie, penutup kepala, dan masker oleh sejumlah peserta ia sebut sebagai ciri-ciri yang sudah sejak awal memancing kewaspadaan kepolisian.

>>> BLADE & BASTARD Anime Tayang Eksklusif di HIDIVE pada 2027, Trailer Baru Dirilis

"Dari video-video yang kemarin kita lihat, dari rekaman-rekaman kamera kita bisa melihat bahwa kelompok-kelompok dengan hoodie, dengan penutup kepala, kemudian menggunakan masker," ucapnya.

"Dengan ciri-ciri seperti itu sebenarnya sudah kita juga bisa identifikasi bahwa mesti kita waspadai. Karena memang dari beberapa yang kita amankan kemarin ya dengan ciri-cirinya seperti itu.

Kalau memang niatnya baik, kenapa juga harus pakai itu? Kenapa juga mukanya harus ditutup?

," tambahnya.

Luthfie mengklaim, aparat tidak langsung mengambil tindakan keras.

Sebelum eskalasi terjadi, kepolisian mengaku sudah berulang kali mengimbau massa untuk membubarkan diri secara damai sesuai kesepakatan waktu yang telah ditetapkan.

"Secara persuasif kita himbau mereka untuk segera membubarkan diri. Terutama setelah melewati jam sesuai kesepakatan, untuk segera membubarkan diri kembali ke tempat masing-masing," kata Luthfie.

Namun imbauan itu, menurut Luthfie, tidak digubris. Situasi justru memburuk ketika sebagian massa mulai melempar botol, petasan, dan batu ke arah petugas.

Ia menyebut kondisi semakin diperparah oleh aksi motor digeber-geber di sekitar lokasi.

"Terjadi provokasi di mana mulai melempar-lempar ada molotov, ada petasan, ada batu dan kita masih berupaya terus untuk mengimbau supaya mereka kembali dan tidak melakukan tindakan anarkis.