Zaldi menyebut, tim pemantau KontraS terus mengawasi pergerakan kelompok tersebut hingga menjelang magrib. Namun, jejak mereka akhirnya hilang.

"Tim terus memantau hingga menjelang magrib, lalu kehilangan jejak, pemantauan terakhir menunjukkan mereka bergeser ke area jembatan penyeberangan orang, tempat sebagian massa bermain bola, lalu hilang dari pemantauan," tuturnya.

Atas temuan tersebut, KontraS Surabaya menduga adanya upaya terorganisir untuk memancing kericuhan di tengah berlangsungnya aksi damai.

"Itu yang temuan kami di awal, yakni adanya aktivitas mencurigakan yang kami duga sebagai adanya mobilisasi massa untuk memprovokasi adanya kericuhan seperti itu," kata Zaldi.

Polisi Tetapkan Empat Tersangka

Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan dengan tegas menyebut massa yang terlibat dalam aksi #IndonesiaSekarat di depan Gedung Negara Grahadi, Jumat (26/6), sebagai perusuh.

Luthfie menyatakan, hal itu didasarkan pada sejumlah alasan, mulai dari waktu kedatangan massa, ajakan yang dinilai janggal, hingga penampilan fisik massa yang memancing kecurigaan aparat.

Menurut Luthfie, aksi yang sah seharusnya disampaikan pada jam kerja ketika pejabat yang ingin ditemui masih berada di kantor.

Ia pun mempertanyakan kenapa massa baru tiba pada pukul 16.30 WIB.

"Kenapa saya katakan ini sebagai perusuh? Bukan pendemo.

Karena memang sebenarnya tidak ada yang disampaikan. Kalau memang mau unjuk rasa, mau menyampaikan aspirasi, tentu adalah pada jam kerja.

Pada saat mungkin ada pejabat yang ingin dituju itu ada di kantor. Tapi ini kan datang saja sudah jam 16.30," kata Luthfie, Senin (29/6).

Selain soal waktu, Luthfie juga mempersoalkan konten ajakan yang beredar di media sosial sebelum aksi berlangsung.

Ia menyebut ajakan untuk 'main bola di jalan' di depan Grahadi sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan patut dicurigai.