China sedang membangun koridor surya raksasa di Gurun Kubuqi, wilayah berpasir di Inner Mongolia yang dulu dijuluki "lautan kematian."

Proyek ini direncanakan membentang sekitar 250 mil (400 km) dengan lebar 3 mil (5 km). Kapasitas maksimalnya mencapai 100 gigawatt saat rampung pada 2030.

>>> Krysten Ritter Kembali ke Dexter: Resurrection Season 2 Meski Karakternya Tewas

Proyek ini bukan sekadar soal ukuran panel surya.

Lebih dari itu, China ingin membuktikan bahwa produksi energi, restorasi lahan, perencanaan industri, dan strategi iklim bisa menyatu di lingkungan gurun yang keras.

Tembok yang Terbuat dari Sinar Matahari

"Tembok Surya Raksasa" ini dibangun di jalur bukit pasir panjang di selatan Sungai Kuning, antara Baotou dan Bayannur.

Observatorium Bumi NASA menyebutkan bahwa citra Landsat dari Desember 2017 dan Desember 2024 menunjukkan perluasan ladang surya di Gurun Kubuqi secara signifikan.

Saat ini proyek masih jauh dari selesai.

Pejabat China melaporkan baru sekitar 5,4 gigawatt yang terpasang, meski jumlah itu sudah besar, namun masih sebagian kecil dari target 100 gigawatt.

Secara praktis, ini lebih merupakan koridor energi yang berkembang pesat daripada tembok jadi.

Mengapa menempatkan begitu banyak panel di sana? Jawabannya sederhana: Gurun Kubuqi memiliki sinar matahari kuat, lahan datar, dan dekat dengan pusat industri.

Listrik Cukup untuk Beijing

Pada 2030, otoritas setempat mengatakan proyek ini bisa menghasilkan sekitar 180 miliar kilowatt-jam listrik per tahun.

Jumlah itu melebihi konsumsi listrik tahunan Beijing yang dilaporkan sebesar 135,8 miliar kilowatt-jam, menurut laporan China Daily tentang administrasi energi Ordos.

Perbandingan itu menjelaskan mengapa proyek ini menarik perhatian. Beijing memiliki sekitar 22 juta jiwa, dan memasok listrik untuk kota sebesar itu bukan janji kecil.