ReforMiner: Harga LNG Bisa Ditekan ke US$9/MMBtu Lewat Subsidi Silang
Founder & Advisor ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, menyatakan bahwa beban harga gas industri dari pasokan LNG dapat ditekan ke kisaran US$9–10 per MMBtu melalui skema subsidi silang fiskal.
Skema tersebut memanfaatkan alokasi dana penerimaan negara bukan pajak (PNBP) hulu migas untuk menambal selisih harga LNG yang saat ini berada di atas US$20 per MMBtu.
>>> Vivo X Fold 6 Kini Tersedia di Giztop Mulai $1499
Menurut Pri Agung, kebijakan ini ditujukan khusus bagi industri padat karya yang berkomitmen tidak melakukan PHK, dengan tetap mempertimbangkan kondisi keuangan negara dan keseimbangan harga pasar gas global.
Penyebab Lonjakan Harga Gas
Pri Agung menjelaskan, lonjakan harga gas industri hingga di atas US$20 per MMBtu merupakan konsekuensi dari penurunan produksi gas pipa domestik di wilayah barat Indonesia, khususnya Jawa Barat dan Sumatra.
Akibatnya, sebagian kebutuhan industri harus dipenuhi melalui LNG yang dikirim dari wilayah timur seperti Papua, Sulawesi, dan Kalimantan, yang membawa beban biaya logistik lebih tinggi.
Peralihan dari gas pipa ke LNG menyebabkan peningkatan biaya dalam rantai pasok, mulai dari pengangkutan, regasifikasi, hingga penyaluran ke kawasan industri.
>>> Pleidoi Bos Blueray: Suap ke Pejabat Bea Cukai karena Tekanan
Solusi Jangka Panjang
Selain subsidi silang, Pri Agung mendorong percepatan pembangunan infrastruktur gas nasional, termasuk penyelesaian jaringan pipa transmisi Cirebon–Semarang (Cisem) Tahap II dan Dumai–Sei Mangkei.
Penguatan jaringan pipa dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan LNG yang memiliki struktur biaya lebih tinggi, karena gas dari wilayah yang memiliki ketersediaan dapat dialirkan langsung ke pusat industri.
Ia juga mengusulkan pembentukan agregator gas nasional untuk mengonsolidasikan pasokan dari berbagai sumber hulu, sehingga harga gas dapat dikelola dengan formula yang lebih stabil dan memberikan kepastian bagi industri.
>>> Aldila Sutjiadi Juara Bad Homburg Open, Petenis Pertama Indonesia Raih Gelar WTA 500
Agregator gas akan bertindak sebagai badan penyangga tunggal yang membeli gas dari berbagai sumber dengan harga bervariasi, lalu merata-ratakannya sehingga industri mendapatkan harga yang lebih kompetitif dan dapat diprediksi.
Update Terbaru
Nekat! Windows 11 Berhasil Berjalan Stabil di PC Berusia Lebih Dari 20 Tahun
Rabu / 01-07-2026, 09:50 WIB
James Kennedy dari 'Vanderpump Rules' Bertunangan dengan Jordan Meyers
Rabu / 01-07-2026, 09:49 WIB
Mahfud MD: Vonis 10 Tahun Nadiem Makarim Sudah Saya Duga
Rabu / 01-07-2026, 09:49 WIB
Mbappe Samai Messi, Prancis Melesat ke 16 Besar Piala Dunia 2026
Rabu / 01-07-2026, 09:49 WIB
Ronald Koeman Mundur Usai Belanda Tersingkir, KNVB Tempuh Jalur Hukum Lawan Rasisme
Rabu / 01-07-2026, 09:49 WIB
Amerika Enggan Cairkan Dana Beku Iran US$6 Miliar, Sebut Tak Sesuai Perjanjian
Rabu / 01-07-2026, 09:49 WIB
Chris Brown Diperintahkan Bayar Rp13 Miliar Akibat Serangan Anjing
Rabu / 01-07-2026, 09:45 WIB
Jadwal Baru Meksiko vs Ekuador di Piala Dunia, Hydration Break Dihapus
Rabu / 01-07-2026, 09:45 WIB
Prabowo Sematkan Tanda Kehormatan Samkaryanugara ke 2 Satker dan 10 Polda
Rabu / 01-07-2026, 09:45 WIB
Pernikahan Taylor Swift di MSG: Biaya Polisi Capai Rp2,5 Miliar
Rabu / 01-07-2026, 09:42 WIB
Hujan Lebat dan Badai Petir Tunda Laga Meksiko vs Ekuador di Piala Dunia 2026
Rabu / 01-07-2026, 09:42 WIB
Piala Dunia 2026 Buktikan Sepak Bola Tak Bisa Diukur dengan Algoritma
Rabu / 01-07-2026, 09:42 WIB
Buruh Tolak Kemasan Rokok Polos: Bukan Solusi Tapi Masalah Baru
Rabu / 01-07-2026, 09:42 WIB
KPK Sita Aset Ketum Pemuda Pancasila Japto Terkait Kasus Rita
Rabu / 01-07-2026, 09:42 WIB






