Prediksi sensasional ekonom Jerman Achim Klement akhirnya runtuh di Piala Dunia 2026.

Model statistik yang sebelumnya akurat kini gagal total setelah Brasil dan Maroko membalikkan semua proyeksinya dalam waktu kurang dari dua hari.

>>> Buruh Tolak Kemasan Rokok Polos: Bukan Solusi Tapi Masalah Baru

Klement sebelumnya dikenal sebagai ahli Piala Dunia karena sukses menebak juara dalam tiga edisi terakhir.

Namun, turnamen kali ini membuktikan bahwa sepak bola tetap sulit diprediksi.

Brasil dan Maroko Hancurkan Prediksi

Klement memprediksi Timnas Brasil akan tersingkir dari Jepang di fase gugur.

Prediksi itu sempat terlihat akurat saat Jepang unggul lebih dulu.

Namun pasukan Carlo Ancelotti bangkit.

Dipimpin Casemiro dan Gabriel Martinelli, Selecao membalikkan keadaan dan memastikan kemenangan yang sekaligus mematahkan salah satu prediksi utama Klement.

Kejutan terbesar datang dari tersingkirnya Timnas Belanda.

Tim yang diprediksi menjadi juara itu kalah dramatis dari Timnas Maroko lewat adu penalti 2-3 setelah bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu.

>>> KPK Sita Aset Ketum Pemuda Pancasila Japto Terkait Kasus Rita

Belanda sempat unggul melalui Cody Gakpo. Namun Maroko menyamakan skor di menit akhir lewat gol Issa Diop yang memanfaatkan umpan silang Chemsdine Talbi.

Di babak adu penalti, kiper Yassine Bounou kembali menjadi pahlawan. Ia menggagalkan eksekusi lawan dan membawa Maroko melaju ke babak berikutnya.

Kekalahan Belanda praktis mengakhiri skenario besar Klement.

Dalam prediksinya, Belanda akan menjuarai turnamen dengan mengalahkan Portugal di final.

Ia bahkan memproyeksikan jalur detail hingga semifinal, termasuk kemenangan atas Spanyol dan langkah Portugal yang menyingkirkan Inggris serta Argentina.

Semua skenario itu kini tidak lagi relevan.

Hasil ini kembali menegaskan bahwa sepak bola penuh kejutan.

Tim unggulan bisa tumbang, sementara underdog seperti Maroko mampu mencuri panggung.

>>> Mulai Hari Ini, Turis Pulang dari Jepang Bayar Pajak Rp330 Ribu

Piala Dunia 2026 pun menjadi bukti nyata bahwa statistik dan algoritma tidak selalu mampu membaca dinamika di lapangan.