Jargon Link and Match Dinilai Belum Atasi Skill Mismatch di Indonesia
Jargon link and match yang telah digaungkan sejak 1990-an dinilai belum dapat menyelesaikan masalah ketidaksesuaian keahlian atau skill mismatch di Indonesia.
Tenaga kerja terdidik dinilai belum dapat memenuhi kebutuhan industri yang terus melaju. Akibatnya, banyak pengangguran terdidik yang tidak memiliki kesempatan berkontribusi pada peningkatan nilai ekonomi.
>>> BAIC Indonesia Siap Luncurkan Mobil Listrik BAIC T1 pada Juli 2026
Akar Masalah Skill Mismatch
Peneliti utama SMERU Research Institute Asep Suryahadi menjelaskan, persoalan mendasar dari sistem penyiapan tenaga kerja adalah dunia industri berubah dengan cepat.
Perubahan ini terutama didorong oleh perkembangan teknologi, digitalisasi, otomatisasi, dan transisi ke ekonomi hijau. Sebaliknya, proses revisi kurikulum sering kali memakan waktu bertahun-tahun.
"Akibatnya, keahlian yang diajarkan di kelas sering kali sudah ketinggalan saat siswa lulus," kata Asep kepada Kompas. com, ditulis pada Jumat (19/6/2026).
Ia menambahkan, banyak lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi (LPK) membuka jurusan berdasarkan kapasitas instruktur dan fasilitas yang mereka miliki, bukan berdasarkan analisis kebutuhan pasar kerja.
Meskipun jargon link and match sudah didengungkan selama puluhan tahun, implementasinya di lapangan masih terbatas.
Industri jarang dilibatkan dalam penyusunan standar kompetensi materi kuliah, desain laboratorium, dan program dosen tamu dari praktisi.
Selain itu, pendidikan vokasi membutuhkan investasi modal besar untuk menyediakan mesin dan laboratorium setara standar pabrik modern.
Dengan keterbatasan anggaran, banyak siswa vokasi berlatih dengan alat-alat tua yang sudah tidak digunakan di industri.
"Peningkatan kompetensi guru atau instruktur agar tetap relevan dengan teknologi terbaru juga masih terbatas," ungkap Asep.
Kendala dari Sisi Permintaan Tenaga Kerja
Head of Economic Research Division Pefindo Suhindarto menyampaikan, perbaikan komprehensif dari sisi pasokan dan permintaan pada pasar tenaga kerja perlu dilakukan.
Update Terbaru
Netflix Tambah Film Laris dan Olahraga Langsung ke Katalog Juli 2026
Rabu / 01-07-2026, 16:25 WIB
Cara Cek Hasil Kelulusan UMPTKIN 2026 dan Langkah Setelah Lolos
Rabu / 01-07-2026, 16:25 WIB
5 Game Seru Penghasil Saldo DANA Asli, Cara Mudah Cuan 2026
Rabu / 01-07-2026, 16:25 WIB
Gelombang Panas dan Badai Ancam Perayaan 4 Juli di AS
Rabu / 01-07-2026, 16:22 WIB
Calon PM Inggris Lebih Suka di Warrington daripada Washington, tapi Kebijakan Luar Negeri Akan Mendominasi
Rabu / 01-07-2026, 16:22 WIB
Prancis dan Norwegia Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia
Rabu / 01-07-2026, 16:21 WIB
ABC Indonesia Perkuat Komitmen Keamanan Pangan Lewat Program Manajemen Risiko BPOM
Rabu / 01-07-2026, 16:21 WIB
Api Belum Padam, Kebakaran TPA Jatiwaringin Berstatus Tanggap Darurat
Rabu / 01-07-2026, 16:21 WIB
Taylor Swift Siapkan Banyak Gaun Pengantin, Terinspirasi dari Elizabeth Taylor
Rabu / 01-07-2026, 16:21 WIB
Emina Glosszilla Lip Jelly Vinyl, Lip Cream Glossy Ringan dengan Efek Bibir Plumpy
Rabu / 01-07-2026, 16:21 WIB
Sah! Ojol Resmi Jadi UMKM Mulai 1 Juli 2026
Rabu / 01-07-2026, 16:20 WIB
Laporan Etik AS: Trump Kantongi Rp21,5 T dari Bisnis Kripto Keluarga
Rabu / 01-07-2026, 16:20 WIB
Kapolri Akui Polri Belum Sempurna, Terbuka Terima Kritik
Rabu / 01-07-2026, 16:20 WIB
Pasokan Air Falls Lake Tetap, Satu Pengguna Didenda Akibat Pelanggaran Air
Rabu / 01-07-2026, 16:15 WIB






