Wamenkomdigi: Deepfake Tingkatkan Ancaman Penipuan Digital
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) melalui teknologi deepfake menjadi tantangan etis dan keamanan digital yang perlu diantisipasi serius.
Teknologi deepfake memungkinkan pembuatan video, gambar, dan suara palsu yang sulit dibedakan dari aslinya.
>>> Menteri PPPA Usul Tambahan Anggaran Rp392 Miliar untuk 2027
"Sekarang suara kita bisa ditiru, gambar wajah kita bisa ditiru, dan tampil dalam bentuk deepfake video yang dihasilkan oleh AI dengan sangat mulus," kata Nezar dalam acara Indonesia Ethical AI Summit di Jakarta, Rabu.
Menurut Nezar, perkembangan AI saat ini sangat cepat, bahkan telah melampaui fase generative AI menuju agentic AI dan teknologi baru lainnya.
Perkembangan tersebut membawa manfaat besar, tetapi juga memunculkan risiko baru yang memerlukan perhatian serius.
Dalam aspek keamanan siber, ia menyoroti pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan digital untuk penipuan menggunakan deepfake.
Hasil manipulasi berbasis AI kini berkembang menjadi synthetic reality, yaitu konten rekayasa digital yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan.
Ia menilai rendahnya literasi masyarakat tentang AI membuat banyak orang mudah terkecoh oleh konten manipulasi tersebut.
"Awamnya masyarakat kita tentang perkembangan AI ini membuat banyak yang terkecoh. Itu sebabnya scam saat ini luar biasa," ujarnya.
>>> Cristiano Ronaldo Jadi Pemain Kedua yang Tampil di Enam Piala Dunia
Nezar juga mengingatkan pentingnya keterlibatan manusia dalam pengambilan keputusan (human in the loop) pada pengembangan AI otonom yang mampu mengambil keputusan secara mandiri.
Menurutnya, sejumlah pakar mengusulkan penerapan protokol yang lebih ketat agar keputusan penting tetap dalam pengawasan manusia.
"Banyak pakar mengusulkan agar dilakukan satu protokol yang cukup ketat, termasuk menerapkan prinsip human in the loop dalam decision making," jelasnya.
Ia menilai pendekatan etika AI tidak lagi cukup bersifat sukarela seperti pada tahap awal perkembangan teknologi tersebut.
Prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keamanan harus diwujudkan secara nyata dalam pengembangan produk AI melalui pendekatan ethics by design.
Nezar mendorong pengembang, pelaku industri, akademisi, dan komunitas pengguna AI untuk memperkuat tata kelola serta mitigasi risiko sejak tahap perencanaan.
>>> KPK: Korupsi Pelayanan Publik Berawal dari Hal Kecil yang Dibiasakan
"Transparansi, akuntabilitas, keamanan, itu harus hadir di dalam implementasi, di dalam pengembangan satu produk AI," katanya menegaskan.
Update Terbaru
CEO Ancam Pecat Karyawan yang Kirim Email Hasil AI Tanpa Edit
Kamis / 02-07-2026, 02:35 WIB
Keterbatasan Anggaran Picu Kreativitas: Penampilan Karakter Cyberpunk 2077 Jadi Bagian Cerita
Kamis / 02-07-2026, 02:35 WIB
Sony Hentikan Produksi Disk Fisik pada 2028, Ironi Janji 'Keep It Forever'
Kamis / 02-07-2026, 02:35 WIB
HIDIVE Rilis Dub Inggris untuk The World Is Dancing, The Forsaken Saintess, dan Film The Dangers in My Heart
Kamis / 02-07-2026, 02:35 WIB
Remow's 'It's Anime' Tayangkan My Stepmother and Stepsisters Aren't Wicked di YouTube
Kamis / 02-07-2026, 02:30 WIB
Krejcikova Singkirkan Andreeva di Wimbledon, Djokovic Hadapi Tsitsipas
Kamis / 02-07-2026, 02:30 WIB
Bruins Rekrut Clifton dan Harris untuk Perkuat Lini Pertahanan
Kamis / 02-07-2026, 02:30 WIB
Jett Harrison, Adik Marvin Harrison Jr., Resmi Bergabung dengan Ohio State
Kamis / 02-07-2026, 02:29 WIB
Piala Dunia 2026 Catat Rekor Penonton Berkat Suporter AS
Kamis / 02-07-2026, 02:29 WIB
Hakim Persingkat Waktu Tanggapan Trump dalam Kasus Carroll
Kamis / 02-07-2026, 02:28 WIB
AS Tangkap Mantan Pejabat Kuba Carlos Antonio Lloga Dominguez
Kamis / 02-07-2026, 02:28 WIB
Boston Bruins Perkuat Lini Pertahanan dengan Clifton dan Harris
Kamis / 02-07-2026, 02:28 WIB
Panduan Konversi BBM ke Gas untuk Kendaraan: Hemat 50-70% Biaya Bahan Bakar
Kamis / 02-07-2026, 02:28 WIB
BPS: Inflasi April 2026 Melandai ke 0,13%, Neraca Dagang Surplus USD 3,53 Miliar
Kamis / 02-07-2026, 02:28 WIB






