Pemerintah India Hapus Pajak Obligasi untuk Tarik Investor Asing
Pemerintah India resmi menghapus pajak pemotongan dan pajak keuntungan modal bagi investor asing yang membeli obligasi negara.
Kebijakan ini diumumkan pada Jumat lalu sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak mentah yang menekan nilai tukar rupee dan neraca eksternal.
>>> Minat Investor Melonjak, Permintaan IPO SpaceX Tembus US$250 Miliar
Selain penghapusan pajak, akses terhadap surat utang negara kini dibuka lebih lebar tanpa batasan nilai investasi.
Pemerintah juga memberikan insentif bagi perbankan untuk menghimpun simpanan valuta asing dari warga India non-residen dan memudahkan korporasi domestik memperoleh pinjaman luar negeri.
Respons Pasar dan Prospek ke Depan
Sejak pengumuman, aliran modal asing langsung meningkat signifikan.
Investor asing tercatat membeli obligasi pemerintah senilai US$ 1 miliar hanya dalam tiga sesi perdagangan, melonjak tajam dibandingkan total US$ 1,6 miliar sepanjang tahun berjalan sebelum kebijakan.
Imbal hasil obligasi pemerintah merosot 10 hingga 30 basis poin di seluruh kurva, dengan penurunan terbesar pada tenor pendek.
Menurut Jennifer Taylor dari State Street Investment Management, penghapusan pajak membuat obligasi India lebih kompetitif dan mendorong partisipasi asing di seluruh kurva imbal hasil.
Kebijakan ini dinilai membuka jalan bagi obligasi India untuk masuk ke indeks global seperti Bloomberg Global Aggregate Index.
>>> Cara Klaim JKM BPJS Ketenagakerjaan untuk PMI Secara Online
Niel Clement dari BNP Paribas Asset Management menyebut langkah ini memperluas peluang investor asing dan memperkuat posisi India di pasar global.
Bloomberg Index Services diperkirakan akan meminta masukan dari investor bulan ini terkait penambahan obligasi India ke indeks utama mereka.
Namun, sejumlah investor mengingatkan bahwa prospek aliran modal tetap bergantung pada stabilitas mata uang lokal.
Rong-Ren Goh dari Eastspring Investments menekankan bahwa masalah utama bagi investor asing adalah nilai tukar.
Pelemahan rupee sebelumnya menggerus daya tarik obligasi India, meskipun pasca-pengumuman, rupee sedikit menguat ke posisi 95,16 per dolar AS.
Ekonom Citi merevisi proyeksi neraca pembayaran India dari defisit US$ 60 miliar menjadi surplus US$ 5 miliar, mendukung penguatan rupee.
Meski demikian, volatilitas suku bunga global dan tekanan inflasi akibat harga energi tinggi masih membayangi pasar.
>>> Netflix Belum Beri Kejelasan Sekuel Anime The Way of the Househusband
Secara keseluruhan, para investor menilai kebijakan ini menunjukkan pendekatan konstruktif India dalam memperluas akses pasar dan mengamankan aliran modal asing jangka panjang.
Update Terbaru
Demo FLASK Kini Tersedia di Steam, Tawarkan Sistem Set Bonus dan Deck Building Unik
Kamis / 02-07-2026, 20:56 WIB
One UI 9.0 untuk Galaxy A37 dan A26 Makin Dekat, Firmware Terdeteksi
Kamis / 02-07-2026, 20:56 WIB
Kota Maya Kuno yang Tak Tersentuh Selama 1.000 Tahun Ditemukan di Meksiko
Kamis / 02-07-2026, 20:56 WIB
Astronom Temukan Dua Lubang Hitam Raksasa 60 Miliar Kali Massa Matahari
Kamis / 02-07-2026, 20:56 WIB
Pengadilan Ungkap Isi Gugatan Hak Asuh Ruben Onsu
Kamis / 02-07-2026, 20:56 WIB
5 Zodiak Paling Beruntung pada 3 Juli 2026, Rezeki Datang hingga Peluang Karier Terbuka
Kamis / 02-07-2026, 20:56 WIB
Pakar Peringatkan Bahaya Tren Sunscreen di Media Sosial
Kamis / 02-07-2026, 20:56 WIB
5 Sheet Mask PDRN untuk Kulit Kencang dan Bebas Keriput
Kamis / 02-07-2026, 20:55 WIB
7 Kebiasaan Kecil yang Tanpa Sadar Bikin Orang Hilang Respek
Kamis / 02-07-2026, 20:43 WIB
Percepat Huntap, Kasatgas PRR Dukung Gunakan Dana Siap Pakai BNPB
Kamis / 02-07-2026, 20:43 WIB
Pertamina Buka Apresiasi Jurnalistik 2026 dengan 8 Kategori
Kamis / 02-07-2026, 20:42 WIB
PT KMR Tarik 300 Ton Minyakita Usai Laporan Penurunan Kualitas
Kamis / 02-07-2026, 20:42 WIB
Menhut Raja Juli Siap Bantu KPK Usut Kasus Korupsi Hutan di Kuansing
Kamis / 02-07-2026, 20:42 WIB
KB Bank Naikkan Bunga Deposito hingga 6% Usai BI Rate Naik
Kamis / 02-07-2026, 20:42 WIB






