Harga Bitcoin Tertekan ke Level 60.000 Dollar AS Akibat Aksi Jual Investor ETF
Namun, sepanjang Mei 2026, arus modal keluar dari instrumen ini dilaporkan menembus angka 2,3 miliar dollar AS atau setara Rp 41,5 triliun.
Arus keluar dana investor besar terpantau terjadi tanpa jeda selama hampir dua pekan terakhir.
>>> Ketidakpastian Perundingan AS-Iran Tahan Pergerakan Harga Emas
Keputusan penarikan modal oleh institusi ini langsung direspons secara negatif oleh pelaku pasar secara luas.
Penjualan Aset oleh Tokoh Vokal Kripto
Sentimen negatif pasar semakin diperparah setelah perusahaan Strategy mengumumkan penjualan sebagian kecil dari portofolio Bitcoin mereka.
Langkah ini mengejutkan publik mengingat pemilik perusahaan, Michael Saylor, merupakan pendukung Bitcoin yang sangat vokal.
Michael Saylor selama ini dikenal luas di industri kripto dengan komitmen strategi untuk tidak pernah menjual Bitcoin miliknya.
Oleh karena itu, kabar pelepasan 32 keping BTC oleh perusahaannya pada akhir Mei langsung memicu reaksi berantai.
Meskipun volume yang dijual terhitung sangat kecil dibandingkan total kepemilikan Strategy yang mencapai lebih dari 818.000 Bitcoin, pasar menginterpretasikannya secara berbeda.
Investor menilai tindakan tersebut sebagai sinyal penyesuaian strategi dari pendukung paling loyal sekalipun.
Pengalihan Dana ke Sektor AI dan Emas
Di samping faktor internal industri, Bitcoin juga harus bersaing ketat dengan instrumen investasi konvensional lainnya.
Pengamat pasar melihat adanya pergeseran arus modal investor ke saham-saham sektor kecerdasan buatan (AI) yang tengah mengalami tren kenaikan.
Tingginya minat publik terhadap korporasi teknologi AI seperti OpenAI membuat sebagian investor memindahkan modal mereka dari aset kripto yang berisiko tinggi.
Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah turut mendorong aksi ambil aman.
Para pemodal cenderung memilih aset pelindung nilai tradisional seperti emas ketika ketidakpastian global meningkat.
>>> Badan Gizi Nasional Pangkas Anggaran Makan Bergizi Gratis Jadi Rp 268 Triliun
Berdasarkan analisis para ahli, arah pergerakan Bitcoin ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh indikator makroekonomi seperti inflasi, tingkat suku bunga bank sentral AS, serta dinamika perkembangan teknologi AI.
Update Terbaru
China Terapkan Aturan Keamanan Nasional untuk Investasi ke Luar Negeri
Kamis / 02-07-2026, 04:21 WIB
Babak I Piala Dunia: Habib Diarra Antar Senegal Unggul 1-0 atas Belgia
Kamis / 02-07-2026, 04:21 WIB
Ismael Saibari Resmi Gabung Bayern Munchen Usai Tampil Gemilang di Piala Dunia 2026
Kamis / 02-07-2026, 04:21 WIB
Anime Casino Games: Ketika Slot Reels Bertemu Energi Manga
Kamis / 02-07-2026, 04:21 WIB
Kopi Kenangan Rilis Laporan ESG 2025, Fokus pada Keberlanjutan dan Pemberdayaan Petani
Kamis / 02-07-2026, 04:20 WIB
Dari Jual Sembako hingga Tarik Tunai, Cara Baru UMKM Menambah Penghasilan
Kamis / 02-07-2026, 04:20 WIB
5 Rekomendasi Sleeping Mask Lokal, Wajah Lembap dan Cerah Saat Bangun Tidur
Kamis / 02-07-2026, 04:20 WIB
Prabowo Tegaskan Hukum Bukan Alat Balas Dendam Politik
Kamis / 02-07-2026, 04:19 WIB
Trump Akui AS Tak Mampu Buat Pesawat Secanggih Hadiah Qatar
Kamis / 02-07-2026, 04:19 WIB
Projo Minta Publik Tak Bawa-bawa Politik dalam Gelar Adat Jokowi di Lampung
Kamis / 02-07-2026, 04:19 WIB
Trump Klaim Qatar Keluarkan Banyak Uang Demi Berikan 'Hadiah Istimewa' untuk Amerika Serikat
Kamis / 02-07-2026, 04:19 WIB
Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 3 – 5 Juli 2026
Kamis / 02-07-2026, 04:00 WIB
AC di AS Disebut Memperparah Gelombang Panas di Eropa
Kamis / 02-07-2026, 03:40 WIB
Subnautica 2: Krafton Bayar Bonus Lebih Besar ke Seluruh Tim, CEO Tetap Hengkang
Kamis / 02-07-2026, 03:36 WIB






