Kenapa Harga Plastik Naik Drastis? Konflik Timur Tengah Picu Gangguan Pasokan Global

Kenapa Harga Plastik Naik Drastis? Konflik Timur Tengah Picu Gangguan Pasokan Global

tanda tanya-geralt/pixabay-

Kenapa Harga Plastik Naik Drastis? Konflik Timur Tengah Picu Gangguan Pasokan Global

Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan di berbagai sektor perdagangan di Indonesia. Lonjakan tersebut tidak hanya memengaruhi industri, tetapi juga berdampak langsung pada pelaku usaha kecil hingga konsumen.

Produk berbahan plastik seperti kantong kresek, plastik kemasan, hingga wadah makanan dilaporkan mengalami penyesuaian harga. Dampaknya bahkan merembet ke sektor jasa yang bergantung pada penggunaan plastik, salah satunya usaha penatu.

Konflik Timur Tengah Ganggu Distribusi Energi



Kenaikan harga plastik berkaitan erat dengan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut memicu gangguan pada jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pelayaran strategis dunia.

Gangguan di jalur tersebut memengaruhi pasokan minyak dan sejumlah komoditas penting. Dampaknya kemudian menjalar ke industri petrokimia yang mengolah minyak dan gas bumi menjadi berbagai bahan kimia turunan.

Dalam perkembangan terbaru, harga minyak mentah dilaporkan melonjak hingga sekitar 47 persen. Sementara itu, harga polipropilena—salah satu bahan utama produksi plastik—ikut naik sekitar 24 persen.


Polipropilena merupakan jenis plastik yang banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kemasan makanan, wadah penyimpanan, hingga perlengkapan rumah tangga.

Ketergantungan Ekspor Bahan Plastik dari Timur Tengah

Wilayah Timur Tengah memiliki peran besar dalam pasokan bahan baku plastik dunia. Kawasan ini menyumbang sekitar seperempat dari total ekspor global polietilen dan polipropilen.

Terganggunya distribusi dari wilayah tersebut membuat rantai pasokan bahan baku plastik menjadi tidak lancar. Ketika pasokan menurun, harga di pasar global pun terdorong naik.

Direktur Polietilen di Independent Commodity Intelligence Services, Harrison Jacoby, menjelaskan bahwa jalur ekspor plastik dari Timur Tengah sangat bergantung pada Selat Hormuz.

"Sekitar 84% kapasitas polietilen Timur Tengah bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor melalui jalur laut," ungkap Harrison Jacoby.

Ketergantungan tersebut membuat setiap gangguan di wilayah itu dapat memicu dampak luas terhadap pasokan global, termasuk ke negara-negara yang jauh dari sumber produksi seperti Indonesia.

Baca juga: Polres Labuhanbatu Gelar Trauma Healing untuk Anak Korban Bullying di Panai Hilir


Berita Lainnya