Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, IHSG Ditutup Turun 2,19 Persen

Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, IHSG Ditutup Turun 2,19 Persen

uang--

Rupiah Terseret Sentimen Global

Dari dalam negeri, tekanan terhadap IHSG turut dipicu oleh depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Pada penutupan perdagangan Kamis, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS atau melemah sekitar 0,12 persen secara point-to-point.

Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menyentuh Rp17.024 per dolar AS yang menjadi posisi terlemah dalam transaksi intraday.



Penguatan dolar AS tidak hanya menekan rupiah. Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga mengalami pelemahan terhadap mata uang Amerika Serikat.

  • Baht Thailand turun 0,57 persen
  • Yen Jepang turun 0,50 persen
  • Ringgit Malaysia turun 0,35 persen
  • Dolar Singapura turun 0,31 persen
  • Yuan China turun 0,29 persen
  • Won Korea Selatan turun 0,11 persen
  • Dolar Taiwan turun 0,10 persen

Tekanan terhadap mata uang kawasan muncul seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong dolar AS kembali diminati sebagai aset lindung nilai.

Pernyataan Trump Picu Ketidakpastian Pasar

Dolar AS juga menguat setelah pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kemungkinan peningkatan eskalasi konflik di Timur Tengah.


Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump mengingatkan bahwa Amerika Serikat berpotensi melakukan serangan keras terhadap Iran dalam dua hingga tiga pekan mendatang apabila tidak tercapai kesepakatan.

Ia menyebut infrastruktur penting seperti pembangkit listrik dapat menjadi target operasi militer tersebut.

Situasi geopolitik tersebut menambah ketidakpastian pasar global dan mendorong investor mencari perlindungan pada aset yang dianggap lebih aman.

Risiko bagi Emiten Berutang Dolar

Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan beban utang luar negeri perusahaan yang tercatat di bursa, terutama bagi emiten yang memiliki kewajiban dalam mata uang dolar AS.

Perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam rupiah tetapi memiliki utang dalam dolar berisiko menghadapi ketidaksesuaian mata uang atau currency mismatch.

Kondisi tersebut dapat menekan kinerja laba perusahaan. Jika keuntungan perusahaan menurun, peluang pembagian dividen kepada investor juga ikut berkurang.


Berita Lainnya