Labubu Mulai Ditinggalkan, Saham Pop Mart Terperosok Lebih dari 30 Persen
ilustrasi-pixabay-
Gelombang aksi jual menekan saham Pop Mart International Group Ltd. dalam beberapa hari terakhir, menyusul meningkatnya keraguan pasar terhadap keberlanjutan pertumbuhan bisnis perusahaan yang sangat bergantung pada karakter boneka Labubu.
Dalam lima sesi perdagangan hingga Selasa, nilai saham perusahaan mainan koleksi asal China itu merosot lebih dari 30 persen. Penurunan tersebut terjadi tak lama setelah perusahaan merilis laporan keuangan terbaru yang menegaskan dominasi Labubu dalam sumber pendapatan mereka.
Koreksi Tajam Setelah Laporan Keuangan
Tekanan jual ini memperpanjang tren penurunan dari posisi tertinggi yang dicapai pada Agustus. Sejak saat itu, harga saham Pop Mart telah terpangkas hampir 60 persen dan menghapus sekitar US$33 miliar dari nilai kapitalisasi pasar perusahaan.
Sentimen investor berubah drastis setelah laporan kinerja dirilis. Sejumlah analis menurunkan target harga saham, sementara aktivitas short selling meningkat seiring kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan perusahaan.
Analis konsumen Deutsche Bank AG, Sammi Xu, menyatakan pasar kemungkinan belum sepenuhnya menghitung potensi skenario penurunan jangka panjang dengan margin keuntungan yang lebih rendah.
Dalam penjelasannya, Xu menilai tekanan berasal dari perlambatan penjualan baik di pasar domestik China maupun luar negeri, tingginya tingkat persediaan, serta revisi turun proyeksi laba sepanjang tahun.
Ketergantungan Besar pada Labubu
Popularitas Labubu melonjak secara global sepanjang tahun lalu dan menjadi salah satu contoh keberhasilan produk hiburan China menembus pasar Barat.
Lonjakan minat tersebut sempat mendorong saham Pop Mart melonjak sekitar 300 persen sejak awal 2025 hingga mencapai rekor tertinggi pada Agustus.
Namun kekhawatiran bahwa tren tersebut hanya bersifat sementara mulai membayangi pasar. Investor meragukan kemampuan perusahaan mengulang kesuksesan Labubu melalui karakter lain.
Data perusahaan menunjukkan seri Monsters yang dipimpin Labubu menyumbang sekitar 40 persen dari total pendapatan tahun lalu, meningkat dari 23 persen pada 2024.
Sementara itu karakter lain seperti Crybaby dan Molly mencatat performa penjualan di bawah ekspektasi pasar.
Persediaan Meningkat
Perputaran persediaan Pop Mart juga mengalami kenaikan signifikan. Hingga akhir 2025, periode perputaran mencapai 123 hari atau meningkat sekitar 21 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Perusahaan menjelaskan kenaikan tersebut dipicu oleh waktu pengiriman yang lebih panjang, ekspansi penjualan internasional, serta penambahan jaringan toko di berbagai wilayah.