Labubu Mulai Ditinggalkan, Saham Pop Mart Terperosok Lebih dari 30 Persen
ilustrasi-pixabay-
Buyback Belum Menghentikan Tekanan Pasar
Langkah perusahaan melakukan pembelian kembali saham belum berhasil meredakan tekanan investor.
- Nilai buyback mencapai sekitar HK$1,3 miliar.
- Program ini dimulai setelah penurunan harian 23 persen pada 25 Maret.
- Namun harga saham tetap berada di kisaran terendah.
Saat ini saham Pop Mart diperdagangkan sekitar 10,3 kali proyeksi laba ke depan, jauh di bawah rata-rata tiga tahun yang berada di kisaran 24 kali.
Manajer dana Sparx Group Co., Angus Lee, menilai valuasi tersebut memang terlihat murah. Namun kondisi serupa juga terjadi pada banyak saham konsumen China lainnya.
Menurutnya, daya tarik utama Pop Mart selama ini bertumpu pada cerita pertumbuhan karakter ikonik seperti Labubu serta potensi munculnya karakter global berikutnya.
“Narasi itu kini terasa jauh lebih tidak pasti,” katanya.
Strategi Mencari Karakter Baru
Untuk mempertahankan momentum bisnis, Pop Mart mempercepat peluncuran karakter baru seperti Skullpanda dan Twinkle Twinkle.
Perusahaan juga merilis berbagai koleksi kolaborasi yang menggabungkan sejumlah intellectual property sekaligus.
Di sisi lain, ekspansi global Labubu tetap menjadi prioritas melalui kerja sama dengan Sanrio Co. serta kolaborasi terkait FIFA World Cup.
Pop Mart juga menyiapkan proyek film animasi Labubu bekerja sama dengan Sony Pictures Entertainment Inc.
Tekanan dari Short Seller
Data dari S3 Partners menunjukkan meningkatnya aktivitas short selling terhadap saham perusahaan tersebut.
- Sekitar 123 juta saham dipinjam untuk posisi short.
- Angka ini naik sekitar 16 persen sejak laporan kinerja diumumkan.
- Volume opsi jual (put) juga mencetak rekor tertinggi pada Rabu.
Analis konsumen Bernstein, Melinda Hu, menilai pasar masih meremehkan tantangan yang akan dihadapi perusahaan.
Ia menyebut perlambatan pertumbuhan, normalisasi margin keuntungan, atau kejenuhan terhadap karakter yang ada dapat memicu koreksi valuasi yang lebih besar.
Jika kondisi tersebut terjadi, proyeksi laba konsensus analis berpotensi mengalami revisi turun dalam waktu mendatang.