Pasokan Aluminium Global Tertekan Konflik Teluk Persia, Risiko Harga Jangka Panjang Menguat

Pasokan Aluminium Global Tertekan Konflik Teluk Persia, Risiko Harga Jangka Panjang Menguat

makanan-VGTFF/pixabay-

Konflik yang memanas di kawasan Teluk Persia mulai menimbulkan dampak serius terhadap rantai pasok aluminium dunia. Ketidakpastian keamanan di wilayah tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai kemampuan pasar global untuk menambah produksi logam tersebut dalam beberapa tahun ke depan.

Goldman Sachs Group Inc. menilai kondisi geopolitik terbaru telah mengaburkan prospek Teluk Persia sebagai pusat ekspansi kapasitas aluminium global yang sebelumnya diproyeksikan tumbuh.



Wilayah ini saat ini berkontribusi sekitar seperlima produksi aluminium global di luar China dan selama ini dipandang sebagai lokasi strategis untuk pembangunan smelter baru karena ketersediaan energi yang kompetitif.

Ekspansi Smelter Aluminium Kini Diragukan

Kepala bersama riset ekuitas China di Goldman Sachs, Trina Chen, menjelaskan bahwa sebelumnya industri memperkirakan pembangunan lebih banyak pabrik peleburan aluminium di kawasan tersebut.

“Kami memperkirakan lebih banyak pabrik peleburan akan dibangun di sini karena keunggulan energi, dan itu akan memasok pertumbuhan permintaan global pada masa depan,” kata Chen dalam wawancara di Bloomberg TV, Kamis (2/4/2026).


Namun menurutnya, gangguan yang muncul akibat konflik membuat rencana ekspansi tersebut kini menghadapi ketidakpastian besar.

Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko harga aluminium tetap tinggi dalam jangka panjang.

Harga Aluminium Naik ke Level Tertinggi Empat Tahun

Pasar logam langsung merespons perkembangan tersebut. Harga aluminium di London tercatat melonjak hingga mencapai penutupan tertinggi dalam empat tahun pada Rabu (1/4/2026).

Kenaikan tersebut terjadi setelah serangan Iran memaksa salah satu produsen terbesar di kawasan, Emirates Global Aluminium, menghentikan operasi salah satu smelternya.

Situasi ini membuat pasar kembali berada pada kondisi yang mirip dengan periode setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Risiko tambahan juga muncul dari terganggunya aktivitas di Selat Hormuz yang berpotensi memperburuk distribusi bahan baku bagi industri aluminium di kawasan.

Baca juga: Pengakuan Wang Yien Soal Pernikahan Rahasia yang Berakhir dalam Setahun


Berita Lainnya