close ads x

Pakar Jelaskan TB Laten di Tengah Lonjakan Kasus TBC di Malaysia

Pakar Jelaskan TB Laten di Tengah Lonjakan Kasus TBC di Malaysia

Ilustrasi paru--

Pakar Jelaskan TB Laten di Tengah Lonjakan Kasus TBC di Malaysia -

Lonjakan kasus tuberkulosis (TBC) di Malaysia memicu perhatian publik, terutama setelah Menteri Kesehatan Malaysia Dzulkefly Ahmad melaporkan adanya 10 klaster TBC di tujuh negara bagian. Salah satu kekhawatiran utama adalah banyaknya kasus yang bersifat laten.



Istilah TB laten merujuk pada kondisi ketika seseorang telah terinfeksi bakteri tuberkulosis, tetapi belum menunjukkan gejala penyakit aktif.

Apa Itu TB Laten?

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan TB laten terjadi ketika kuman TB berada di dalam tubuh dalam kondisi dorman atau tidak aktif.

“Jadi ada kuman TB dalam tubuhnya, tetapi kuman itu dalam keadaan 'dorman', katakanlah semacam tidur dan tidak aktif,” kata Prof Tjandra kepada detikcom, Rabu (18/2/2026).


Dalam kondisi ini, penderita tidak mengalami gejala dan tidak menularkan penyakit. Situasi tersebut bahkan dapat berlangsung bertahun-tahun selama daya tahan tubuh tetap baik.

Bisa Berubah Jadi TB Aktif

Prof Tjandra menambahkan, bakteri yang dorman dapat kembali aktif ketika sistem imun menurun. Saat itulah TB laten berubah menjadi TB aktif yang disertai gejala dan berpotensi menularkan ke orang lain.

“Kalau daya tahan tubuhnya turun maka kuman TB yang 'dorman' yang tidur tadi akan bangkit dan membuat orangnya menjadi mengalami penyakit tuberkulosis aktif dengan segala gejala dan penularannya,” jelasnya.

Fenomena Slow-Burn Epidemic

Beberapa pakar di Malaysia menyebut peningkatan kasus TBC sebagai slow-burn epidemic, yakni epidemi yang berkembang perlahan namun konsisten selama bertahun-tahun.

Menurut Prof Tjandra, TBC memiliki tiga karakter utama sebagai epidemi. Pertama, penyakit ini bersifat persisten dan terus ada di berbagai negara, termasuk Malaysia dan Indonesia.

Kedua, dampaknya sering kali tidak terasa besar dalam jangka pendek sehingga kurang disadari sebagai ancaman serius. Ketiga, jumlah kasus dapat meningkat sewaktu-waktu seperti yang dilaporkan di Malaysia.

Ia mengingatkan agar kewaspadaan terhadap TBC tetap dijaga, termasuk di Indonesia. Deteksi dini dan penguatan daya tahan tubuh menjadi langkah penting untuk mencegah TB laten berkembang menjadi TB aktif.

Sumber:

BERITA TERKAIT

Berita Lainnya