Kasus gagal ginjal di Indonesia terus meningkat dan sering kali baru terdeteksi saat kondisi sudah berat. Banyak pasien tidak merasakan gejala berarti hingga akhirnya memerlukan terapi pengganti ginjal seperti cuci darah atau transplantasi.

Konsultan ginjal-hipertensi Prof Dr dr Endang Susalit, SpPD-KGH menyebut diabetes sebagai penyebab terbanyak gagal ginjal di Indonesia. Hipertensi berada di posisi kedua, disusul infeksi.

Akumulasi Penyakit Metabolik

Menurut Prof Endang, gagal ginjal bukan hanya persoalan satu organ, tetapi akibat dari penyakit metabolik dan gaya hidup yang tidak terkontrol. Kerusakan terjadi perlahan dan sering tidak disadari hingga fungsi ginjal menurun drastis.

Karena itu, pengendalian gula darah dan tekanan darah menjadi kunci untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

GFR di Bawah 15 Masuk Tahap Akhir

Fungsi ginjal dinilai melalui Glomerular Filtration Rate (GFR), yang menunjukkan kemampuan ginjal menyaring limbah dan cairan dari darah. Berdasarkan pedoman internasional KDIGO, GFR normal berada di atas 90 mL/menit/1,73 m².

Jika GFR turun ke 60–89, fungsi ginjal mulai menurun ringan. Pada 30–59 masuk kategori sedang, sementara di bawah 30 tergolong berat. GFR di bawah 15 mL/menit/1,73 m² dikategorikan sebagai gagal ginjal tahap akhir dan umumnya memerlukan dialisis atau transplantasi.

“Kalau memang angkanya sudah di bawah 15, meskipun belum cuci darah, biasanya pasien sudah mulai merasa tidak enak badannya,” ujar Prof Endang.

Waspada Dehidrasi pada Fungsi Ginjal Turun

Prof Dr dr Nur Rasyid, SpU(K) menekankan pentingnya menjaga keseimbangan cairan tubuh pada pasien dengan gangguan ginjal. Menurutnya, saat GFR turun hingga di bawah 40, pasien biasanya tidak dianjurkan berpuasa karena risiko kekurangan cairan.