Dokumen mencatat bahwa kiriman tersebut tiba di kediaman Epstein pada Maret 2017, bertahun-tahun setelah ia menjalani hukuman dan terdaftar sebagai pelaku kejahatan seksual.

Penekanan Makna Religius

Dalam salah satu email yang ditujukan langsung kepada Epstein, Al-Ahmadi menekankan nilai spiritual kain tersebut. Ia menyebut kain hitam itu telah disentuh jutaan umat Islam dari berbagai mazhab yang melaksanakan ibadah tawaf.

Dalam penjelasannya, kain tersebut digambarkan sebagai media tempat umat menitipkan doa, harapan, dan air mata mereka, dengan keyakinan spiritual yang mendalam.

Korespondensi Pasca Badai Irma

Rangkaian email lain menunjukkan Al-Ahmadi turut menanyakan kondisi Epstein setelah Badai Irma menghantam kawasan Karibia pada September 2017. Bencana tersebut diketahui menyebabkan kerusakan signifikan di pulau pribadi Epstein.

Dalam balasan yang dikirimkan sekretaris Epstein, disebutkan bahwa seluruh penghuni selamat meski sejumlah bangunan, pepohonan, dan infrastruktur mengalami kerusakan berat. Al-Ahmadi menanggapi dengan nada ringan dan menawarkan pengiriman tenda baru.

Relasi yang Masih Menyisakan Tanda Tanya

Dokumen tidak menjelaskan secara rinci bagaimana hubungan antara Al-Ahmadi dan Epstein terjalin, maupun alasan spesifik pengiriman kain suci tersebut kepada Epstein.

Dalam korespondensi lain, asisten lama Epstein, Lesley Groff, tercatat mengirim alat tes DNA kepada Al-Ahmadi, meski tujuan pengiriman itu tidak dijelaskan dalam berkas.

Epstein sendiri jarang terlibat langsung dalam email-email tersebut. Dalam satu pesan, Al-Ahmadi meminta izin untuk singgah sejenak ke rumah Epstein di New York sebelum meninggalkan kota.

Memo FBI Singgung Hubungan Politik

Secara terpisah, sebuah memo FBI yang turut dirilis menyebut Epstein memiliki kedekatan dengan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak. Dalam memo tersebut disebutkan adanya kerja sama Epstein dengan intelijen Amerika Serikat dan Israel.

Temuan ini menambah panjang daftar relasi Epstein yang melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh lintas negara, sekaligus memperluas dimensi geopolitik dalam skandal yang selama ini dikenal sebagai kasus kejahatan seksual.

Pengungkapan ini kembali menegaskan luasnya jaringan Epstein dan kompleksitas dokumen yang kini terus dikaji publik, seiring rilis bertahap Epstein Files oleh otoritas Amerika Serikat.