Nonton Drakor Positively Yours Episode 7-8 Sub Indo serta Link di KST Bukan LK21: Konflik Cinta dan Kuasa Memuncak, Simak Spoiler Emosional yang Bikin Deg-degan!
Positively-Instagram-
Nonton Drakor Positively Yours Episode 7-8 Sub Indo serta Link di KST Bukan LK21: Konflik Cinta dan Kuasa Memuncak, Simak Spoiler Emosional yang Bikin Deg-degan!
Drama Korea Positively Yours kembali menghadirkan gelombang emosi yang tak terduga pada episode 7 dan 8 yang akan tayang pada Sabtu (31/1) dan Minggu (1/2/2026). Setelah pengakuan mengejutkan Kang Du-jun (Choi Jin-hyuk) tentang keinginannya menikahi Jang Hui-won (Oh Yeon-seo), hubungan mereka justru memasuki fase paling rapuh. Bukan hanya urusan hati yang kian rumit, tetapi badai krisis di perusahaan turut mengguncang fondasi kehidupan Du-jun sebagai pewaris konglomerat.
Penolakan yang Menyakitkan: Hui-won Pertegas Batas
Adegan pembuka episode 7 langsung menyita napas penonton. Hui-won, dengan tatapan tegas namun getir, kembali menolak ajakan Du-jun untuk menjalani tiga kencan percobaan sebelum pernikahan. Baginya, keputusan memiliki anak bukanlah transaksi yang bisa dinegosiasikan dengan kencan romantis. "Pilihan tetap ada di tanganku," ujarnya pelan namun tegas sebelum berlalu, meninggalkan Du-jun yang terdiam dalam keheningan yang menusuk.
Penolakan ini bukan sekadar penyangkalan cinta, melainkan cerminan ketakutan mendalam Hui-won: takut dianggap sebagai wanita yang memanfaatkan kehamilan untuk naik kelas sosial. Sebagai wanita mandiri yang membangun karier dari nol, ia khawatir hubungannya dengan Du-jun akan selamanya dibayangi prasangka publik—bahwa ia hanya "ibu pengganti" yang beruntung mendapat warisan.
Dukungan Sahabat dan Pengakuan Tulus Du-jun
Di kediaman mewah Du-jun, Cha Min-uk (Hong Jong-hyun), sahabat sekaligus penasihat pribadinya, menunggu dengan cemas. Setelah mengetahui fakta mengejutkan bahwa Du-jun adalah ayah kandung janin dalam rahim Hui-won, Min-uk tak ragu mengajukan pertanyaan krusial: "Apakah Hui-won benar-benar yakin mempertahankan bayi dari pewaris konglomerat yang mungkin hanya menganggapnya sebagai kewajiban?"
Jawaban Du-jun menggetarkan hati. "Aku serius pada Hui-won dan anak kami," tegasnya, suara bergetar menahan emosi. "Aku bahkan kesal setiap kali ia bicara dengan pria lain atau menolak bicara soal pernikahan." Pengakuan ini membongkar sisi rentan Du-jun—seorang eksekutif dingin yang ternyata rapuh dalam urusan hati. Ia tak lagi berbicara sebagai bos korporat, melainkan sebagai pria yang benar-benar jatuh cinta dan takut kehilangan.
Badai di Kantor: Skandal Model dan Perebutan Kekuasaan
Sementara Du-jun berjuang memperbaiki hubungannya dengan Hui-won, badai mengamuk di kantor pusat perusahaan. Seorang model ternama yang menjadi wajah kampanye terbaru merek mereka ditangkap polisi karena mengemudi dalam keadaan mabuk. Video insiden tersebut viral dalam hitungan jam, memicu gelombang kecaman publik dan boikot media sosial.
Dewan direksi yang selama ini diam-diam meragukan kepemimpinan Du-jun pasca-kematian ayahnya, kini bersuara lantang. Rapat darurat digelar, mempertanyakan kemampuan Du-jun mengelola citra perusahaan di tengah krisis reputasi. Yang lebih menyulut tensi, kakak iparnya, Hye-sun—yang selama ini haus kekuasaan—memanfaatkan momentum ini untuk menanam benih keraguan di kalangan eksekutif senior. Ia diam-diam mengumpulkan dukungan untuk mosi tidak percaya, berharap kursi CEO segera beralih ke tangannya.
Hui-won di Persimpangan: Rahasia yang Semakin Sulit Dipendam
Di sisi lain, Hui-won terjebak dalam pergulatan batin yang tak kalah pelik. Setiap kali merasakan tendangan lembut janinnya, ia dibayangi pertanyaan yang sama: Bagaimana reaksi timku jika tahu ayah anak ini adalah bos mereka? Ia membayangkan tatapan iba rekan kerja, bisikan di belakang punggung, bahkan kemungkinan dipecat dengan alasan "mencoreng nama baik perusahaan".
Ketakutan ini membuatnya sengaja menjaga jarak dari Du-jun di lingkungan kerja—menolak makan siang bersama, menghindari pertemuan tatap muka, bahkan sengaja mengalihkan panggilan teleponnya. Ironisnya, sikap dingin ini justru membuat Du-jun semakin yakin: Hui-won butuh bukti nyata bahwa cintanya bukan sekadar rasa bersalah sebagai calon ayah.