Kebocoran Data Instagram: 17,5 Juta Pengguna Terancam, Informasi Pribadi Beredar di Dark Web
Instagram--
Di Indonesia sendiri, di mana Instagram menjadi salah satu platform media sosial paling aktif digunakan—terutama oleh generasi muda dan pelaku UMKM—risiko dampaknya sangat nyata. Banyak pelaku usaha mikro mengandalkan akun Instagram sebagai etalase utama bisnis mereka. Jika data kontak mereka jatuh ke tangan yang salah, bukan tidak mungkin mereka menjadi sasaran penipuan berkedok kolaborasi atau sponsor palsu.
Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan Pengguna
Meski belum ada konfirmasi resmi dari Meta, para pengguna disarankan untuk segera mengambil langkah-langkah pencegahan berikut:
Aktifkan verifikasi dua langkah (two-factor authentication/2FA) pada akun Instagram.
Jangan klik tautan mencurigakan dalam email atau pesan langsung, meskipun tampak berasal dari Instagram.
Periksa aktivitas login melalui menu “Keamanan” di pengaturan akun.
Ganti kata sandi secara berkala, terutama jika menggunakan kombinasi yang sama di banyak platform.
Batasi informasi pribadi yang ditampilkan di profil publik, seperti nomor telepon atau alamat email.
Selain itu, pengguna juga disarankan untuk memantau laporan kebocoran data melalui layanan seperti Have I Been Pwned atau platform keamanan lokal yang menyediakan notifikasi dini.
Refleksi: Saat Privasi Digital Menjadi Barang Dagangan
Insiden kebocoran data Instagram ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa privasi digital bukan lagi hak istimewa, melainkan tanggung jawab bersama. Di era di mana setiap klik, like, dan komentar terekam secara digital, data pribadi telah menjadi komoditas berharga—dan rentan dieksploitasi.
Bagi perusahaan teknologi raksasa seperti Meta, transparansi dan respons cepat bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban moral dan hukum. Sementara bagi pengguna, kesadaran akan pentingnya keamanan digital harus ditingkatkan—karena di dunia maya, informasi adalah senjata, dan siapa pun bisa menjadi target.