IHSG Menuju 10.000: Optimisme Pasar, Tantangan Struktural, dan Peringatan OJK untuk Investor

IHSG Menuju 10.000: Optimisme Pasar, Tantangan Struktural, dan Peringatan OJK untuk Investor

saham-pixabay-

IHSG Menuju 10.000: Optimisme Pasar, Tantangan Struktural, dan Peringatan OJK untuk Investor

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan tren penguatan yang menggembirakan sepanjang 2025, bahkan sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di angka 8.710,70 pada 8 Desember lalu. Kini, dengan penutupan akhir tahun di level 8.646,94, optimisme pasar mulai mengarah ke target psikologis berikutnya: 10.000. Namun, di balik euforia tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan peringatan penting kepada seluruh pelaku pasar—terutama investor ritel—agar tidak terlena oleh momentum jangka pendek.



Optimisme Pemerintah dan Kinerja Pasar Modal 2025
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi salah satu tokoh yang paling vokal menyuarakan keyakinannya terhadap potensi IHSG mencapai level 10.000 dalam waktu dekat. Dalam sesi doorstop usai konferensi pers APBN KiTa di Aula Djuanda, Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (8/1/2026), ia menyebut bahwa aliran modal asing dan domestik ke pasar modal Indonesia dalam tiga bulan terakhir menunjukkan tren positif yang konsisten.

“Kalau kita lihat kan tiga bulan terakhir sudah positif terus flow-nya ke kita. Itu menunjukkan ada perbaikan sentimen investor domestik maupun global terhadap perekonomian Indonesia yang ke depan harus terus dijaga,” ujar Purbaya. Ia pun menambahkan dengan nada optimis, “Kalau begitu, tahun ini IHSG ke 10.000 enggak susah-susah amat.”

Pernyataan tersebut didukung oleh data kinerja pasar modal sepanjang 2025 yang memang mencatatkan capaian impresif. OJK melaporkan bahwa Rata-Rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) saham pada Desember 2025 mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, yaitu Rp27,19 triliun. Angka ini tidak hanya menjadi puncak dari tren peningkatan likuiditas, tetapi juga menandai konsistensi pasar yang sejak 20 Agustus 2025 selalu berada di atas angka Rp20 triliun per hari.


Secara kumulatif, RNTH sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp18,07 triliun, naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp12,85 triliun—menunjukkan pertumbuhan hampir 41% dalam setahun.

Investor Ritel Jadi Penggerak Utama
Salah satu faktor utama di balik lonjakan likuiditas adalah meningkatnya partisipasi investor ritel domestik. Proporsi transaksi ritel naik drastis dari 38% pada 2024 menjadi 50% pada 2025, menjadikan investor lokal sebagai tulang punggung aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Jumlah investor pasar modal juga terus bertambah. Hingga Desember 2025, total investor tercatat mencapai 20,36 juta orang, bertambah 694 ribu hanya dalam satu bulan terakhir dan 5,49 juta secara tahunan. Lonjakan ini mencerminkan semakin luasnya literasi keuangan dan aksesibilitas investasi bagi masyarakat umum, terutama melalui platform digital yang semakin mudah digunakan.

Peringatan OJK: Jangan Abaikan Manajemen Risiko
Meski tren IHSG terlihat cerah, OJK tak henti-hentinya mengingatkan pentingnya kewaspadaan dan pengelolaan risiko dalam setiap keputusan investasi. Ketua Dewan Komisioner OJK, Inarno Djajadi, menegaskan bahwa pergerakan indeks tidak hanya ditentukan oleh fundamental emiten, tetapi juga oleh berbagai faktor eksternal—baik domestik maupun global.

“Yang penting juga untuk dicermati yaitu bahwa pergerakan indeks selain dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental emiten, juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti yang terjadi di domestik maupun yang terjadi di global,” ujarnya.

Inarno menekankan bahwa regulator terus berkomitmen menjaga agar pasar berjalan secara teratur, wajar, dan efisien. Namun, tanggung jawab menjaga stabilitas investasi juga ada di tangan investor sendiri. “Kami tidak pernah jenuh untuk selalu mengingatkan bahwa keputusan dalam berinvestasi tetap perlu diiringi dengan kewaspadaan dan juga pengelolaan risiko yang baik,” tambahnya.

Menuju Ekosistem Pasar Modal yang Sehat dan Berkelanjutan
Lebih jauh, OJK menyoroti pentingnya penguatan ekosistem pasar modal yang sehat dan berintegritas. Menurut mereka, pencapaian IHSG di level 10.000 hanya akan bermakna jika didukung oleh fondasi yang kuat—bukan sekadar dorongan spekulatif atau momentum jangka pendek.

Hal senada disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang menegaskan bahwa agenda reformasi struktural seperti demutualisasi bursa harus ditunda dulu hingga praktik manipulasi pasar—yang kerap disebut sebagai ulah “tukang goreng-goreng saham”—benar-benar dituntaskan.

“Saya belum tahu, bisa ditanyakan ke OJK. Kalau pandangan saya sih, beresin dulu ‘tukang goreng-goreng’ itu baru demutualisasi,” tegas Purbaya.

Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi pemberantasan praktik market manipulation, insider trading, dan pelanggaran lain yang merusak kepercayaan publik terhadap pasar modal. Tanpa integritas, pertumbuhan IHSG berisiko menjadi gelembung yang sewaktu-waktu bisa pecah.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya