Banda Aceh Gelap Gulita: Dua Penyebab Mati Lampu Massal 27 November 2025 dan Perjuangan PLN Memulihkan Jaringan

Banda Aceh Gelap Gulita: Dua Penyebab Mati Lampu Massal 27 November 2025 dan Perjuangan PLN Memulihkan Jaringan

Banjir-Instagram-

Banda Aceh Gelap Gulita: Dua Penyebab Mati Lampu Massal 27 November 2025 dan Perjuangan PLN Memulihkan Jaringan

Sejak Rabu malam (26/11), gelap gulita menyelimuti sebagian besar wilayah Banda Aceh dan sejumlah daerah di Provinsi Aceh. Pemadaman listrik massal yang berlangsung hingga hari ini, Kamis (27/11), bukan sekadar gangguan teknis biasa—melainkan akibat bencana alam ekstrem yang melumpuhkan infrastruktur kelistrikan vital.



Warga kota yang dikenal religius dan tenang ini dibuat gelisah. Aktivitas ekonomi terganggu, komunikasi terputus sebagian, dan kehidupan malam berubah menjadi sunyi tanpa cahaya. Pertanyaan seragam pun menggema di berbagai sudut kota: “Kapan listrik kembali menyala?”

Dua Pukulan Telak: Banjir Bandang dan Tower Listrik Roboh
Menurut keterangan resmi dari General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh, Eddi Saputra, ada dua faktor utama yang menyebabkan pemadaman listrik berkepanjangan ini:

1. Banjir Bandang di Aron–Bireuen
Hujan deras yang mengguyur kawasan pegunungan Aceh sejak Selasa (25/11) malam memicu banjir bandang di wilayah Aron hingga Bireuen. Volume air yang sangat tinggi tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga merusak jalur distribusi listrik utama. Kondisi diperparah oleh angin kencang yang menyertai badai, menghantam tiang listrik dan kabel transmisi di sepanjang rute pasokan.


2. Sembilan Tower Transmisi 150 kV Roboh
Dampak paling krusial dari bencana ini adalah runtuhnya sembilan tower transmisi tegangan tinggi 150 kV. Tiga di antaranya mengalami kerusakan struktural parah—artinya, tidak cukup hanya dengan perbaikan ringan, melainkan harus dibangun ulang. Tower-tower ini merupakan tulang punggung sistem kelistrikan Aceh, yang menyalurkan daya ke 18 kabupaten dan kota, termasuk ibu kota provinsi, Banda Aceh.

“Kerusakan ini bersifat masif dan terjadi di lokasi yang sangat sulit dijangkau karena kondisi geografis dan cuaca ekstrem,” jelas Eddi Saputra dalam konferensi pers darurat, Kamis (27/11).

Upaya Pemulihan: Material Didatangkan dari Lima Provinsi
Menghadapi krisis infrastruktur ini, PLN UID Aceh tidak tinggal diam. Tim tanggap darurat telah mengerahkan seluruh sumber daya untuk mempercepat pemulihan. Material pendukung seperti tiang baja, isolator, konduktor, dan alat berat kini sedang dimobilisasi dari lima provinsi: Palembang, Lampung, Jambi, Pekanbaru, dan Padang.

Namun, tantangan terbesar bukan hanya ketersediaan material, melainkan akses ke lokasi kerusakan. Beberapa tower yang roboh berada di daerah terpencil, terjal, dan masih tergenang air. Untuk mengatasi hal ini, PLN bekerja sama dengan instansi terkait untuk mengerahkan helikopter dari Jakarta.

“Helikopter itu akan digunakan untuk mengangkut peralatan berat dan tim teknis ke lokasi yang tidak bisa dijangkau melalui jalur darat. Kami perkirakan pesawat itu tiba dalam 1 hingga 2 hari ke depan,” ungkap Eddi.

Belum Ada Estimasi Pasti, Tapi Komitmen Tetap Kuat
Hingga Kamis siang (27/11), PLN belum memberikan estimasi pasti kapan listrik akan pulih 100% di seluruh wilayah terdampak. Namun, manajemen menegaskan bahwa prioritas utama adalah memulihkan pasokan ke fasilitas kritis terlebih dahulu—seperti rumah sakit, pusat komunikasi, dan posko bencana.

Sementara itu, sebagian wilayah Banda Aceh mulai mendapat suplai listrik secara bertahap melalui jalur distribusi alternatif. Namun, karena daya yang tersedia masih sangat terbatas, pemadaman bergilir tetap diberlakukan untuk menghindari kelebihan beban.

Baca juga: Jadwal Acara Televisi Minggu, 30 November 2025 Ada Film Bioskop Elysium dan Runner Runner di Metro TV, SCTV, TVONE, NET TV, Indosiar, TRANS 7, TRANS TV dan RCTI Serta Link Nonton

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya