Apa Arti Tuhan Den Paso? Lirik Lagu yang Viral di Payakumbuh Kini Picu Kemarahan Ulama dan Masyarakat Minang
Apa Arti Tuhan Den Paso? Lirik Lagu yang Viral di Payakumbuh Kini Picu Kemarahan Ulama dan Masyarakat Minang
Payakumbuh, Sumatera Barat – Dunia media sosial dihebohkan oleh kontroversi lirik lagu yang dianggap melecehkan ajaran agama Islam di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Kalimat “Tuhan Den Paso” tiba-tiba menjadi perbincangan hangat setelah dinyanyikan dalam sebuah konser musik lokal. Bukan acaranya yang dipermasalahkan, melainkan makna dari lirik tersebut yang dianggap menyimpang dari nilai-nilai keagamaan yang kuat di tengah masyarakat Minang yang dikenal religius.
Kemarahan Tokoh Agama dan Masyarakat
Reaksi keras datang dari para tokoh masyarakat dan ulama setempat. Mereka mengecam penggunaan frasa “Tuhan Den Paso” dalam lirik lagu yang dinyanyikan di atas panggung, menyebutnya sebagai bentuk penghinaan terhadap keyakinan umat Islam. Bagi mereka, kalimat tersebut tidak hanya keliru secara linguistik, tetapi juga berpotensi menyesatkan dan merusak akidah.
“Kami tidak terima! Bagaimana bisa ungkapan seperti ini lolos dan dinyanyikan di depan publik?” ujar seorang tokoh ulama terkemuka di Payakumbuh dengan nada tegas.
Kota Payakumbuh memang dikenal sebagai salah satu daerah di Sumatera Barat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Tradisi adat Minangkabau yang berpadu erat dengan syariat Islam membuat masyarakatnya sangat sensitif terhadap segala bentuk konten yang dianggap merendahkan agama.
Pesan Tegas dari Pemuka Agama
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan kepada awak media, para pemuka agama menegaskan bahwa Payakumbuh bukanlah kota yang toleran terhadap paham anti-agama atau konten yang merusak akidah.
“Sekali lagi kami tegaskan: Payakumbuh bukan kota orang tidak beragama. Payakumbuh bukan negeri tempat orang-orang tidak paham Tuhan,” tegas seorang ulama senior.
Ia menambahkan, “Insya Allah, kami adalah kota yang beragama. Jangan pernah coba bawa paham-paham yang bertentangan dengan ajaran Islam ke tanah kami. Kami siap menjaga keutuhan akidah dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan nenek moyang.”
Asal-Usul Kontroversi: Lagu Minang yang Diplesetkan?
Kontroversi ini bermula dari sebuah video konser yang beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, seorang penyanyi lokal menyanyikan lagu berbahasa Minang berjudul “Patah Bacinto”. Namun, alih-alih menyanyikan lirik asli “Tuhan kuaso”, ia diduga menggantinya menjadi “Tuhan Den Paso”.
Lirik asli lagu tersebut sebenarnya berbunyi:
“Patah bacinto itu biaso, kalau indak jodoh, Tuhan kuaso.”
Dalam Bahasa Indonesia, “Tuhan kuaso” berarti “Tuhan berkuasa”—sebuah ungkapan yang sangat lazim dalam budaya Minang dan tidak mengandung unsur kontroversial.
Namun, ketika lirik tersebut berubah menjadi “Tuhan Den Paso”, muncul kekhawatiran di kalangan masyarakat. Pasalnya, frasa tersebut tidak dikenal dalam kosakata Minangkabau yang lazim digunakan dalam konteks religius.
Apa Arti Sebenarnya dari “Tuhan Den Paso”?
Untuk memahami kontroversi ini, penting mengetahui makna sebenarnya dari frasa tersebut. Menurut sejumlah netizen, terutama dalam komentar di grup Facebook Minang Nih Boss, “Tuhan Den Paso” diartikan sebagai “Tolong dipikir-pikir lagi, Tuhan”—sebuah ungkapan yang terdengar seperti mempertanyakan kehendak Tuhan.
Namun, jika diterjemahkan menggunakan Google Translate dari Bahasa Minangkabau ke Bahasa Indonesia, frasa tersebut justru menghasilkan arti: “Tuhan aku memaksa.” Makna ini jelas terdengar sangat tidak pantas, bahkan bisa dianggap syirik atau menyalahi akidah Islam, karena menyiratkan bahwa Tuhan dipaksa oleh manusia—sesuatu yang mustahil dalam keyakinan Islam.
Perbedaan interpretasi ini justru memperkeruh suasana. Banyak warga yang khawatir bahwa lirik semacam itu, meski mungkin hanya salah ucap atau iseng, bisa menyesatkan generasi muda yang belum memahami makna teologis secara mendalam.
Update Terbaru
Bacaan Doa Hari Asyura 10 Muharram untuk Memohon Ampunan dan Keselamatan dari Allah SWT
Kamis / 25-06-2026, 19:04 WIB
Selain Koi, 6 Ikan Ini Dipercaya Membawa Keberuntungan Menurut Feng Shui
Kamis / 25-06-2026, 19:00 WIB
Pemerintah Mulai Pendataan Pegawai Hotel Sultan untuk Pemetaan Pemberdayaan
Kamis / 25-06-2026, 19:00 WIB
Download Nonton Film Tanah Runtuh (2026) di Bioskop Bukan LK21: Angkat Perjuangan Keluarga di Tengah Konflik Poso
Kamis / 25-06-2026, 19:00 WIB
Perjalanan Asmara Rizky Irmansyah dari Afnan Feby hingga Chika Yenalovy
Kamis / 25-06-2026, 18:59 WIB
Cara Dapat Diskon 30% untuk Dua Moda Transportasi Umum Sepanjang 2026
Kamis / 25-06-2026, 18:56 WIB
5 Sistem Informasi untuk Tingkatkan Produktivitas di 2026
Kamis / 25-06-2026, 18:56 WIB
Link Anak vs Ibu Handuk Putih Viral di TikTok Bikin Penasaran, Ini Fakta di Balik Video yang Beredar
Kamis / 25-06-2026, 18:49 WIB
Harga Asli Pertamax Dibuka ke Publik, DPR: Harusnya Rp 19.000-Rp 20.000!
Kamis / 25-06-2026, 18:49 WIB
Profil Ginka Febriyanti Ginting yang Masuk Jajaran Komisaris Pertamina Retail: Umur, Agama, IG dan Riwayat Organisasinya
Kamis / 25-06-2026, 18:45 WIB
Kantongi Pendanaan US$11,3 Juta, Floq Perluas Bisnis ke Stablecoin hingga Tokenisasi
Kamis / 25-06-2026, 18:45 WIB
DPR Apresiasi Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Jaga Daya Beli Masyarakat
Kamis / 25-06-2026, 18:45 WIB
Brantas Abipraya Kebut PSN Bendungan Bulango Ulu, Progres Tembus 94,99%
Kamis / 25-06-2026, 18:45 WIB






