Siswa SMA Diduga Gunakan AI untuk Ubah Foto Teman Jadi Konten Pelecehan

Kasus dugaan pelecehan berbasis teknologi kembali menjadi sorotan publik setelah seorang siswa SMA berinisial DRA ramai dibicarakan di media sosial. Remaja tersebut diduga memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk memanipulasi foto perempuan menjadi konten tidak senonoh.

Pembahasan mengenai kasus itu mencuat usai sebuah unggahan di platform Threads viral pada Rabu, 6 Mei 2026. Unggahan tersebut memperlihatkan kronologi dugaan tindakan yang dilakukan pelaku terhadap sejumlah korban.

Dalam penjelasan yang beredar, DRA disebut mengambil foto perempuan dari berbagai akun media sosial. Korban disebut berasal dari lingkungan pertemanan dekat, mulai dari teman satu angkatan, kakak kelas, pengurus OSIS, hingga rekan semasa SMP dan SMA.

Ratusan Foto Diduga Dimanipulasi dengan AI

Berdasarkan keterangan yang tersebar di media sosial, jumlah gambar yang ditemukan mencapai ratusan file. Foto-foto itu diduga diubah menggunakan teknologi AI sehingga menampilkan visual tubuh korban secara tidak pantas.

“Bukti yang ketahuan ada 700 foto,” demikian isi keterangan dalam tangkapan layar yang ikut dibagikan dalam unggahan tersebut.

DRA juga disebut memakai akun kedua atau second account untuk mengakses dan mengumpulkan foto para korban dari media sosial.

Dugaan tindakan itu dikabarkan telah berlangsung sejak 2024.

>>> Toyota Fortuner 4.0 V6 Produksi Indonesia Punya Mesin 4.000 Cc, Pajero Sport Belum Tandingannya

Kasus Viral dan Tuai Reaksi Warganet

Viralnya unggahan tersebut memicu gelombang reaksi dari pengguna media sosial. Banyak warganet mengecam dugaan tindakan pelecehan digital yang dilakukan dengan bantuan teknologi AI.

Sejumlah akun meminta kasus itu terus disorot agar para korban mendapat perlindungan dan penanganan yang serius.

“Bantu ramein please bejat banget ngedit foto cewe dibuat telanjang sampai 700 foto,” tulis salah satu pengguna media sosial.

Pengguna lain juga mempertanyakan alasan penggunaan foto orang terdekat dalam tindakan manipulasi digital tersebut.

Kasus ini kembali memunculkan perhatian terhadap penyalahgunaan teknologi AI, khususnya yang berkaitan dengan manipulasi visual tanpa persetujuan dan pelanggaran privasi di ruang digital.