Sekitar pukul 14.00 WIT, saat rombongan hendak menyeberangi aliran Sungai Memti, musibah tak terduga terjadi. Kondisi bebatuan di sekitar sungai yang licin akibat lumut dan debit air yang cukup deras membuat Yanto terpeleset.

Dalam sekejap, arus Sungai Memti yang terkenal ganas langsung menyeret tubuh presenter tersebut. Kedua rekannya yang panik sempat berusaha melakukan pertolongan pertama secara mandiri. Namun, derasnya arus membuat upaya penyelamatan gagal. Menyadari situasi yang membahayakan, kedua rekan Yanto segera melaporkan kejadian nahas ini kepada pihak kepolisian setempat untuk memicu operasi pencarian.

Perjuangan Tim SAR di Tengah Cuaca Ekstrem
Merespons laporan tersebut, operasi SAR gabungan segera dibentuk. Tim yang terdiri atas personel TNI, Polri, Basarnas, pemerintah daerah, relawan, hingga masyarakat adat setempat langsung menyisir area Sungai Memti dan sekitarnya.

Namun, alam Pegunungan Arfak seolah memberikan ujian berat. Selama tujuh hari pelaksanaan operasi SAR resmi, tim lapangan harus menghadapi berbagai kendala ekstrem. Cuaca yang berubah drastis, kabut tebal yang membatasi jarak pandang, suhu udara yang menusuk tulang, hingga bebatuan sungai berukuran raksasa yang licin membuat proses penyisiran berjalan sangat lambat dan berbahaya.

Berdasarkan prosedur standar operasional (SOP), operasi SAR resmi ditutup pada Jumat, 24 Juli 2026, setelah berlangsung selama tujuh hari tanpa hasil. Namun, semangat untuk menemukan Yanto tidak padam. Masyarakat setempat dan keluarga terus melakukan pencarian mandiri di sepanjang aliran sungai.

Ditemukan Berjarak 10 Meter dari Titik Jatuh
Kegigihan warga dan tim gabungan akhirnya membuahkan hasil. Pada Senin, 27 Juli 2026, atau tepat di hari kesembilan pasca-kejadian, warga setempat menemukan jasad Yanto sekitar pukul 11.05 WIT.