Menelusuri Rekam Jejak: Dari Peneliti hingga Orang Nomor Satu di BI

Pengunduran diri Perry bukanlah sebuah langkah yang diambil oleh orang yang baru mengenal seluk-beluk bank sentral. Pria yang lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada tahun 1959 ini adalah seorang birokrat dan ekonom murni yang mengabdi puluhan tahun di dalam tubuh Bank Indonesia.
 
Karirnya di BI bisa dikatakan menapak dari bawah hingga mencapai puncaknya. Pada rentang waktu 2009 hingga 2013, Perry dipercaya menjabat sebagai Asisten Gubernur yang membidangi kebijakan moneter, makroprudensial, dan internasional. Di saat yang bersamaan, ia juga mengemban amanah sebagai Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, di mana pemikirannya banyak menjadi landasan bagi bauran kebijakan BI.
 
Kapasitas dan integritasnya yang tinggi membuat karirnya terus meroket. Ia kemudian dipromosikan menjadi Deputi Gubernur BI pada periode 2013-2018, mendampingi Gubernur pada masa itu sebelum akhirnya DPR menyetujui penunjukannya sebagai Gubernur BI pada tahun 2018.
 
Karena dianggap berhasil menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar Rupiah dengan sangat baik, Perry kembali mendapatkan kepercayaan besar. Ia ditetapkan ulang oleh Presiden dan DPR untuk menjabat sebagai Gubernur BI pada periode kedua, yakni 2023-2028. Oleh karena itu, keputusan mundurnya di pertengahan periode kedua ini tentu memunculkan spekulasi dan tanda tanya di kalangan pengamat ekonomi mengenai arah kebijakan moneter ke depannya.
 

Sang Akademisi: Otak Cemerlang Lulusan Iowa State University

Di balik ketegasannya dalam mengambil kebijakan hawkish maupun dovish demi menyelamatkan Rupiah, Perry dikenal sebagai sosok akademisi yang rendah hati dan berdedikasi tinggi pada dunia pendidikan.
 
Ia menamatkan pendidikan sarjananya (S1) di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada tahun 1982. UGM dikenal sebagai kawah candradimuka bagi banyak ekonom top negeri ini.
 
Tak puas dengan ilmu yang didapat di tanah air, Perry melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan pascasarjana di Iowa State University dan berhasil meraih gelar Master pada tahun 1989. Kejeniusannya dalam bidang ekonomi moneter membuatnya kembali melanjutkan studi ke jenjang doktoral di universitas yang sama, dan sukses menyabet gelar Ph.D. pada tahun 1991.
 
Kombinasi antara teori akademis tingkat tinggi dari universitas papan atas Amerika Serikat dan pemahaman mendalam tentang karakteristik ekonomi riil di Indonesia menjadikan Perry sebagai arsitek kebijakan moneter yang sangat disegani, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di forum-forum internasional seperti IMF dan Bank for International Settlements (BIS).