1. Menyebarkan Salam dan Kedamaian (Afsyus Salaam)

Pesan pertama dan yang paling utama adalah Afsyus Salaam, atau menebarkan kedamaian. Dalam konteks modern, ini bukan sekadar mengucapkan "Assalamu’alaikum" saat berpapasan. Lebih dari itu, ini adalah komitmen untuk menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat yang kerap diwarnai oleh polarisasi dan konflik.
 
Sejarah membuktikan bahwa Islam adalah agama yang cinta damai. Sejak wahyu pertama turun hingga Rasulullah wafat, tidak ada satu pun individu yang dipaksa untuk memeluk agama ini. Prinsip La ikraha fid din (Tidak ada paksaan dalam agama) sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 256, adalah harga mati dalam dakwah Islam.
 
Ketika umat Islam disakiti, dicaci, dan disiksa di Makkah, seperti yang dialami oleh keluarga Yasir dan Sumayyah, Rasulullah memerintahkan umatnya untuk bersabar, bukan membalas dengan kekerasan. Perang-perang yang terjadi di masa Rasulullah, seperti Perang Badar, Uhud, dan Ahzab, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Yusuf Qardhawi dalam Fiqih Jihad, semuanya bersifat defensif (pertahanan diri). Perang Badar terjadi karena kaum Quraisy merampas harta umat Islam yang ditinggalkan hijrah. Perang Uhud dan Ahzab adalah upaya defensif untuk melindungi Kota Madinah dari serangan koalisi kafir Quraisy yang ingin memusnahkan Islam.
 
Fakta sejarah ini harus kita tegaskan untuk meluruskan narasi keliru yang sering dilemparkan oleh pihak-pihak yang ingin mencoreng wajah Islam. Siapa yang memicu Perang Dunia I dan II? Bukan umat Islam. Siapa yang menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki? Bukan umat Islam. Siapa yang melakukan perbudakan massal terhadap jutaan manusia Afrika atau membantai penduduk asli Amerika dan Australia? Jelas, bukan umat Islam. Islam datang untuk membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu dan tirani sesama manusia. Maka, jadilah penebar damai, bukan pemicu perpecahan.