Sejumlah produsen mobil asal China menyatakan minatnya untuk memasuki pasar Amerika Serikat. Beberapa bahkan bersedia membangun pabrik di sana.

CEO Xpeng, He Xiaopeng, baru-baru ini mengumumkan keinginannya meluncurkan merek tersebut di AS.

>>> Harga Porsche 911 Bekas Turun Rp 224 Juta, Mobil Listrik Bekas Justru Naik

Ia juga menyebut kemungkinan membangun pabrik di negara itu, meski mengakui iklim politik saat ini kurang mendukung.

Langkah itu memunculkan pertanyaan: haruskah produsen China diizinkan masuk jika mereka memproduksi kendaraan di AS?

Di satu sisi, konsumen akan mendapat lebih banyak pilihan dan harga yang lebih rendah.

Pabrik baru juga bisa menciptakan ribuan lapangan kerja, ditambah lapangan kerja lokal dari diler baru. Investasi dan pajak baru pun akan menguntungkan pemerintah.

Presiden Trump sendiri pernah berkata, "Jika mereka ingin masuk dan membangun pabrik, mempekerjakan Anda dan tetangga Anda, itu bagus.

Biarkan China masuk."

>>> Lexus LS400 1.500 Mil: Mobil Mewah Era Pra-Pemantauan Data

Kisah Polestar Jadi Pelajaran

Namun, kasus Polestar menunjukkan bahwa produksi lokal belum tentu menjamin akses pasar. Polestar 3 SUV dirakit di Ridgeville, South Carolina, bersama Volvo EX90.

Pada Mei lalu, Volvo mendapat keringanan yang melindungi kendaraan dan teknologinya dari larangan berdasarkan aturan rantai pasok. Namun, Polestar tidak mendapatkan keringanan serupa.

Akibatnya, Polestar harus hengkang dari AS pada akhir tahun model 2026. Mereka hanya akan menjual stok yang ada.

Banyak pihak menilai keputusan itu tidak masuk akal.

Melarang impor Polestar 4 mungkin bisa diterima, tetapi menghentikan produksi crossover buatan Amerika terasa kontradiktif, apalagi platform yang sama tetap diizinkan.

>>> Survei: 8 dari 10 Orang Amerika Pilih SUV Bensin untuk Off-Road Dibanding EV

Dengan situasi ini, apakah Anda setuju produsen China masuk ke AS jika mereka memproduksi kendaraan di sana?