Menyelenggarakan ibadah salat Jumat merupakan kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan bagi setiap muslim laki-laki yang telah baligh dan berakal. Ibadah yang dilaksanakan secara berjamaah di masjid setiap hari Jumat ini memiliki rukun yang sangat vital, yakni khutbah.
 
Tanpa khutbah, sah atau tidaknya salat Jumat bisa menjadi perdebatan. Oleh karena itu, isi khutbah tidak boleh absen dari rangkaian ibadah ini. Mengingat pentingnya pesan yang harus disampaikan, tak jarang para khatib mempersiapkan teks khutbah secara matang. Tujuannya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan runtut, tepat sasaran, dan tidak ada poin penting yang terlewatkan.
 
Menyambut bulan Safar yang jatuh pada Juli 2026 ini, berikut adalah panduan lengkap, konteks sejarah, serta teks khutbah Jumat berbahasa Jawa yang mengangkat tema Muhasabah Diri (Introspeksi Diri).
 

 

Mengenal Bulan Safar: Dari Mitos "Bulan Sial" hingga Sejarah Emas Islam

Sebelum melangkah ke teks khutbah, ada baiknya jamaah dan para khatib memahami konteks bulan Safar. Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharram.
 
Di tengah masyarakat Jawa dan sebagian Nusantara pada masa lampau, bulan Safar sering kali dilekati oleh mitos sebagai "bulan sial" atau bulan yang identik dengan bala dan bencana. Banyak yang percaya bahwa bulan ini adalah waktu yang tidak baik untuk memulai hajatan besar, seperti pernikahan atau membangun rumah.
 
Padahal, dalam kacamata tauhid dan sejarah Islam, tidak ada yang namanya bulan sial. Rasulullah SAW sendiri telah menghapus keyakinan thiyarah (merasa sial karena waktu atau tempat). Faktanya, bulan Safar justru menyimpan banyak catatan sejarah emas peradaban Islam.
 
Sebut saja peristiwa pernikahan agung antara Nabi Muhammad SAW dengan istri tercintanya, Siti Khadijah binti Khuwailid, yang terjadi pada bulan ini. Selain itu, ada pula catatan kemenangan umat Islam dalam Perang Abwa (Perang Waddan) yang merupakan ekspedisi militer pertama yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.
 
Oleh karena itu, melalui mimbar khutbah Jumat, para khatib memiliki tanggung jawab moral untuk meluruskan mitos dan mengembalikan pemahaman umat pada esensi waktu sebagai ladang amal.