Saham Microsoft turun 1,4 persen pada perdagangan Senin.

>>> Pochettino Tegaskan Polemik Balogun Bukan Biang Kerok AS Keok

Sebelumnya, saham telah merosot hampir 23 persen sepanjang enam bulan pertama 2026, menjadi kinerja semester pertama terburuk sejak 2022.

CEO Equisights Research Parth Talsania menilai pengurangan karyawan lebih mencerminkan penataan kembali portofolio bisnis dan disiplin operasional.

Menurutnya, pasar akan lebih menghargai bukti monetisasi AI yang tumbuh lebih cepat daripada biaya investasi AI.

Direktur Pelaksana D. A.

Davidson, Gil Luria, mengatakan Microsoft sengaja menekan jumlah tenaga kerja untuk mendanai investasi AI.

Permintaan terhadap AI telah mendorong pertumbuhan bisnis komputasi awan Azure, namun biaya pembangunan pusat data mulai menekan arus kas.

"Dengan menjaga jumlah karyawan tetap rendah, Microsoft mampu mempercepat pertumbuhan pendapatan sambil mempertahankan tingkat margin keuntungan yang sama," ujar Luria.

Microsoft memang kerap melakukan penyesuaian jumlah karyawan menjelang akhir tahun fiskalnya pada Juni.

>>> Argentina vs Mesir: Julian Alvarez Starter, Messi Pimpin Lini Depan

Awal tahun ini, perusahaan juga menawarkan program pengunduran diri sukarela kepada sekitar 9.000 karyawan di AS.