Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Faisal Malik Hendropriyono menyatakan bahwa kebakaran di TPA Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, memiliki karakteristik yang mirip dengan kebakaran lahan gambut.

Diaz menjelaskan bahwa api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga terus menyala di bagian dalam timbunan sampah. "Ini karakteristiknya mirip seperti kebakaran lahan gambut.

>>> Persib Bandung Resmi Rekrut Gelandang Timnas Jepang Gakuto Notsuda

Karena mungkin di atasnya terlihat sudah padam, tetapi ketika kita lihat di bagian bawahnya ini masih ada apinya," ujarnya saat mengunjungi lokasi pada Sabtu (4/7).

Ia menambahkan bahwa kebakaran di TPA ini memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan gambut karena timbunan sampah mengandung gas metana (CH4) yang berpotensi meledak.

"Dan lebih bahaya lagi, karena ini sifatnya CH4 atau metana, itu punya potensi untuk meledak.

Jadi kalau gambut, mungkin hanya potensinya kebakaran karena tidak ada gas seperti di sini," jelasnya.

Penanganan kebakaran pun disesuaikan dengan metode pemadaman lahan gambut.

Kementerian Kehutanan menerjunkan 30 personel Manggala Agni untuk melakukan metode injeksi langsung ke titik api di dalam timbunan.

>>> Pangkogabwilhan III Pimpin Penyerahan Jenazah Pilot Pesawat AMA

"Mereka ini ahli dalam memadamkan gambut, jadi yang serupa dengan TPA ini. Karena TPA ini mungkin kurang efektif kalau diairi dari atas saja.

Karena di bawahnya tetap kebakaran, sehingga kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan injection sampai ke titik di bawah," tutur Diaz.

Pemerintah juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mempercepat penanganan, namun masih menunggu kondisi atmosfer yang memungkinkan. "Untuk OMC ini kan nunggu awan.

Nah awannya ini belum ada.

Jadi kemungkinan dari BMKG tadi, bahwa besok kemungkinan akan ada hujan tipis-tipis, sehingga dimungkinkan untuk melakukan OMC besok," kata dia.

Kebakaran TPA Jatiwaringin telah berlangsung sejak Selasa (30/6).

>>> Dragon Ball Xenoverse 2 Future Saga Chapter 4 Rilis 8 Juli 2026

Hingga hari kelima pada Sabtu (4/7), petugas gabungan masih berupaya mengendalikan api dengan mengerahkan armada pemadam, alat berat, dua helikopter water bombing, dan personel Manggala Agni.