Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kecaman keras terhadap komunisme. Ia menyebut ideologi itu sebagai ancaman bagi masa depan Negeri Paman Sam.

Pernyataan itu disampaikan Trump dalam pidato menjelang peringatan Hari Kemerdekaan AS ke-250. Acara berlangsung di Monumen Mount Rushmore, South Dakota, pada Jumat (3/7).

>>> Crimson Desert Patch 1.13: Eksplorasi Jadi Fokus Utama

Trump menuding kelompok progresif dari Partai Demokrat dan sebagian pendatang membawa paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Amerika. Ia mengajak warga AS mempertahankan kebebasan warisan para pendiri negara.

"Sekarang terjadi ancaman komunisme di negeri kita, termasuk dari para pendatang baru yang memeluk ide-ide yang sepenuhnya bertentangan dengan cara hidup dan kesuksesan besar kita," ujar Trump.

Ia menegaskan pemerintahannya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Trump bahkan menyerukan deportasi bagi pendatang yang dianggap membawa paham komunisme.

"Kita akan mengalahkan komunisme dengan cepat. Kita akan mengusir mereka dan terus membangun negara ini lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat.

Amerika tidak akan pernah menjadi negara komunis," katanya.

>>> Mengapa Beberapa Kanker Berkembang Lebih Cepat? Temuan Baru dari Virginia Tech

Pidato tersebut menjadi yang paling keras dari Trump dalam beberapa pekan terakhir. Ia kerap mengaitkan kemenangan kandidat progresif Partai Demokrat sebagai ancaman serius.

Trump juga mengaitkan isu ini dengan pemilu paruh waktu November mendatang. Menurutnya, Partai Republik bisa kalah jika gagal mempertahankan dukungan pemilih.

Retorika Trump menguat setelah empat kandidat progresif, termasuk tiga politikus berhaluan democratic socialist, memenangi pemilihan pendahuluan di New York City dan Colorado.

Kandidat progresif juga menang di Kentucky, New Jersey, Ohio, Pennsylvania, dan Texas.

Pekan lalu, Trump menyebut kemenangan kubu progresif sebagai ancaman terbesar bagi Amerika sejak negara ini berdiri.

>>> Migrain Kronis Bukan Sekadar Sakit Kepala: Ini Terobosan Terbaru

Pidato itu disampaikan saat warga AS masih menghadapi tekanan inflasi dan harga bahan bakar tinggi akibat konflik AS-Israel dengan Iran.