Ford Motor Co. secara diam-diam mempekerjakan kembali lebih dari 350 insinyur veteran dalam tiga tahun terakhir untuk mengatasi masalah kontrol kualitas otomatis yang merugikan perusahaan miliaran dolar akibat garansi dan recall.

Langkah ini diambil setelah sistem kecerdasan buatan (AI) yang diterapkan di pabrik-pabrik Ford gagal memenuhi ekspektasi operasional.

>>> Kota-Kota di Illinois Rayakan 250 Tahun Kemerdekaan AS dengan Festival dan Kembang Api

Produsen mobil asal Amerika Serikat itu berhasil meraih posisi teratas di antara merek utama dalam studi JD Power Initial Quality Study 2026, setelah sebelumnya jatuh ke peringkat 15 pada 2023.

Dalam siaran pers, Ford mengakui bahwa "mencapai kualitas terbaik di kelasnya membutuhkan penyegaran bakat yang signifikan" dengan merekrut spesialis berpengalaman.

AI Gagal Penuhi Harapan

CEO Ford Jim Farley sebelumnya menyatakan bahwa AI "akan meninggalkan banyak pekerja kerah putih" dan "akan menggantikan setengah dari semua pekerja kerah putih di AS."

Namun, sistem otomatis yang diterapkan pada proses manufaktur dan perakitan tidak memenuhi harapan, memaksa perusahaan untuk mengembalikan pengawasan manusia.

Charles Poon, Wakil Presiden Teknik Kendaraan Ford, mengakui bahwa perusahaan mengabaikan modal manusia yang ada selama dorongan awal menuju sistem otomatis.

"Kami keliru mengira bahwa dengan memperkenalkan AI dan memasukkan persyaratan desain, kami akan menghasilkan produk berkualitas tinggi," kata Poon.

Para insinyur yang kembali ditugaskan untuk membimbing karyawan yang lebih muda dan menyempurnakan infrastruktur data yang mendukung alat otomatis.

>>> Detroit Pistons Resmi Perpanjang Kontrak Javonte Green Satu Tahun

Kumar Galhotra, Chief Operating Officer Ford, mengakui bahwa sistem kualitas otomatis "tidak mendapatkan hasil yang diinginkan" dan para spesialis yang direkrut kembali diminta untuk "memburu titik kegagalan sebelum komponen mencapai lantai pabrik."