Istilah slow burn relationship belakangan viral di TikTok dan media sosial. Banyak orang mulai menyadari bahwa hubungan yang tidak terburu-buru justru bisa lebih bertahan lama.

Konsep ini berbeda dari pola kencan pada umumnya. Slow burn tidak selalu diawali rasa cinta menggebu-gebu atau ketertarikan besar sejak pertemuan pertama.

>>> Portugal vs Spanyol: Lamine Yamal Hormati Ronaldo tapi Tak Gentar

Sebaliknya, hubungan berkembang pelan melalui proses saling mengenal, membangun rasa aman, hingga tumbuhnya kepercayaan.

Banyak pengguna TikTok berbagi pengalaman bahwa hubungan yang awalnya terasa biasa saja perlahan berubah menjadi hubungan paling sehat.

Apa Itu Slow Burn Relationship?

Menurut profesor komunikasi relasi dan seksual Tara Suwinyattichaiporn, slow burn relationship adalah hubungan yang membutuhkan waktu lebih lama untuk berkembang secara emosional, romantis, atau seksual.

Hubungan ini tidak langsung dipenuhi gairah besar sejak awal. Dua orang biasanya memulai dari rasa nyaman, pertemanan, atau koneksi emosional yang tumbuh bertahap.

Dalam banyak kasus, slow burn sering berawal dari pertemanan. Perasaan tumbuh perlahan dari kebiasaan saling berbicara, merasa nyaman, hingga akhirnya muncul kedekatan yang lebih dalam.

Banyak orang baru menyadari perasaannya setelah melewati waktu cukup lama bersama.

Awalnya hanya teman berbagi cerita, tempat pulang setelah hari melelahkan, atau seseorang yang selalu ada tanpa disadari menjadi sosok berarti.

Karena dimulai dari pertemanan, hubungan slow burn biasanya memiliki fondasi komunikasi dan rasa percaya yang lebih kuat.

Kedua orang sudah lebih dulu mengenal kebiasaan, sifat, hingga sisi buruk satu sama lain sebelum masuk ke hubungan romantis yang lebih serius.

Psikoterapis Elisabeth Crain mengatakan banyak orang merasa tertekan dengan gambaran jatuh cinta yang serba cepat seperti di film atau media sosial.