China resmi memberlakukan kebijakan pengembalian pajak perjalanan (departure tax refund) versi 2.0 pada Rabu (3/7/2026).

Kebijakan ini bertujuan mempermudah wisatawan asing berbelanja dan mendorong belanja konsumen yang lebih besar dari gelombang wisatawan yang masuk.

>>> Taylor Swift dan Travis Kelce Ubah MSG Jadi Benteng untuk Pernikahan

Seorang turis asal Indonesia bernama Hu merasakan kemudahan saat di Bandara Internasional Xiaoshan Hangzhou.

Petugas bea cukai memindai paspornya dan sistem otomatis mengambil aplikasi pengembalian dana untuk barang seperti ransel dan parfum.

Karena total pembelian Hu kurang dari 10.000 yuan (sekitar 1.469 dolar AS) dan aplikasinya tidak dipilih untuk diperiksa, proses selesai dengan mudah.

Proses Lebih Cepat dan Digital

Di China World Mall di kawasan bisnis pusat Beijing, seorang pelanggan asal Aljazair membeli produk elektronik senilai hampir 20.000 yuan.

Di mesin refund swalayan, ia memindai paspor, sistem mengisi data masuk secara otomatis, lalu memindai kode QR untuk menerbitkan faktur dan menyelesaikan aplikasi refund dalam hitungan menit.

Setelah menerima pengembalian pajak hampir 1.800 yuan, pelanggan tersebut memutuskan membeli aksesori tambahan.

Menurut pihak mal, toko-toko dengan volume refund tinggi telah dilengkapi perangkat aplikasi, mengurangi waktu penerbitan formulir refund dari 15 menit menjadi minimal tiga menit.

Pengurangan waktu tunggu ini merupakan salah satu perbaikan nyata dari kebijakan yang ditingkatkan, yang dibangun dari versi 1.0 untuk membuat refund lebih mudah diakses wisatawan asing.

Perbandingan dengan Versi Sebelumnya

Versi 1.0 yang diluncurkan April 2025 menurunkan ambang pembelian minimum per transaksi dari 500 yuan menjadi 200 yuan, menaikkan batas refund tunai dari 10.000 yuan menjadi 20.000 yuan, memperluas cakupan toko refund, dan mempromosikan layanan refund saat pembelian.