Memasuki usia remaja, anak mulai ingin memiliki ruang lebih untuk beraktivitas sendiri. Berangkat ke sekolah, mengikuti les, latihan olahraga, hingga bertemu teman menjadi bagian dari proses belajar mandiri.

Namun, bagi banyak orang tua, melepas anak bepergian tanpa pendampingan masih menjadi tantangan.

>>> 5 Air Cooler Hemat Listrik, Alternatif AC dengan Harga Terjangkau

Kekhawatiran soal keamanan perjalanan, apakah anak naik kendaraan yang benar, tetap bisa dihubungi, hingga tiba dengan selamat di tujuan masih menjadi perhatian utama.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan sebagian besar remaja Indonesia berusia 13–18 tahun masih mengandalkan kendaraan pribadi atau diantar orang tua ke sekolah.

Sekitar 63 persen remaja masih bepergian dengan cara tersebut, sementara hanya sekitar 7,7 persen yang menggunakan transportasi umum secara mandiri, termasuk layanan transportasi online.

Angka ini menunjukkan bahwa kemandirian dalam mobilitas belum sepenuhnya menjadi kebiasaan. Dibutuhkan proses bertahap agar remaja dapat belajar mandiri, sekaligus membangun rasa percaya orang tua.

Pendampingan Digital sebagai Solusi

Psikolog keluarga Pritta Tyas, M. Psi.

, Psikolog, menilai kekhawatiran orang tua merupakan hal yang wajar ketika anak mulai meminta kebebasan lebih besar. Menurutnya, pendampingan bukan berarti selalu menemani secara fisik.

"Saat remaja mulai meminta lebih banyak kebebasan, orang tua tetap perlu hadir untuk mendampingi proses tersebut sesuai dengan usia dan kesiapan anak.

Pendampingan juga dapat dilakukan melalui pemanfaatan teknologi yang membantu orang tua tetap terinformasi tanpa mengurangi ruang bagi remaja untuk belajar mandiri," ujarnya.

Pandangan serupa juga dirasakan aktor sekaligus ayah, Tora Sudiro. Ia mengaku proses memberi kepercayaan kepada anak untuk bepergian sendiri bukan hal yang mudah.