Nilai tukar rupiah sore ini berada di level Rp17.995 per dolar AS pada perdagangan Kamis (2/7).

Mata uang Garuda melemah 43 poin atau 0,24 persen dibandingkan sebelumnya.

>>> Polri Dukung Proses Hukum di Kejagung usai Brigjen Lalu Tersangka MBG

Pelemahan rupiah terjadi di tengah mayoritas mata uang Asia yang justru menguat terhadap dolar AS.

Yuan China naik 0,04 persen, peso Filipina menguat 0,11 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,49 persen, dolar Singapura menguat 0,19 persen, yen Jepang melonjak 0,85 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,15 persen.

Hanya dolar Hong Kong yang melemah tipis 0,01 persen.

Mata uang utama negara maju juga kompak menguat terhadap dolar AS.

Euro Eropa naik 0,31 persen, poundsterling Inggris menguat 0,53 persen, dolar Australia terapresiasi 0,04 persen, dolar Kanada naik 0,16 persen, dan franc Swiss menguat 0,52 persen.

>>> Kalshi Luncurkan Kontrak Prediksi Piala Dunia 2026 untuk Warga AS

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga AS

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan dolar AS menguat di tengah meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga.

"Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai sekitar 67 persen.

Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS atau Nonfarm Payrolls malam ini yang diperkirakan menunjukkan penambahan 110 ribu tenaga kerja," ujar Ibrahim dalam keterangannya.

Menurut Ibrahim, sentimen domestik juga masih membebani pergerakan rupiah.

Ia menyoroti memburuknya kepercayaan pelaku pasar setelah defisit neraca perdagangan pada Mei, kontraksi aktivitas manufaktur yang tercermin dari PMI sebesar 46,9 pada Juni, serta proyeksi penurunan kecukupan cadangan devisa Indonesia oleh Fitch Ratings.

>>> Olivia Wilde Bawa Film Komedi 'The Invite' ke Sundance

Ia memperkirakan rupiah pada perdagangan Jumat (3/7) akan bergerak fluktuatif namun masih berpotensi melemah dalam kisaran Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS.