Nilai tukar rupiah melemah 25 poin atau 0,14 persen ke level Rp17.977 per dolar AS pada perdagangan Kamis (2/7) pagi.

Pergerakan rupiah sejalan dengan sejumlah mata uang Asia yang juga tertekan dolar AS. Peso Filipina terkoreksi 0,05 persen dan won Korea Selatan terdepresiasi 0,27 persen.

>>> Kemenperin Minta Kepastian Insentif EV untuk Industri dan Konsumen

Namun, beberapa mata uang Asia lainnya justru menguat.

Yuan China naik 0,06 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,21 persen, dolar Singapura menguat 0,04 persen, yen Jepang naik 0,02 persen, dan dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen.

Di kelompok mata uang utama negara maju, seluruhnya bergerak di zona hijau terhadap dolar AS.

Euro menguat 0,05 persen, poundsterling Inggris naik 0,08 persen, dolar Australia terapresiasi 0,03 persen, dolar Kanada menguat 0,01 persen, dan franc Swiss naik 0,09 persen.

>>> Desainer Kostum Ungkap Rahasia Lemari Pakaian Prequel Legally Blonde

Tekanan dari The Fed dan Sentimen Domestik

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah masih berpotensi tertekan dolar AS di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed).

Hal ini menjelang rilis data ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang dijadwalkan malam ini.

Lukman menambahkan, sentimen domestik juga belum pulih dari tekanan jual investor asing.

>>> Wardah Raih Cannes Lion Pertama Lewat Hear in Hijab 2026

Ia memperkirakan pergerakan rupiah berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini.