Grave Seasons, game farming sim horor dari developer Perfect Garbage, langsung menarik perhatian sejak pertama kali diperkenalkan.

Konsepnya yang unik tentang seorang mantan narapidana yang memulihkan kota dongeng gelap Ashenridge, di mana petani tampan, manusia serigala, dan pembunuh berantai hidup dalam ketidakharmonisan berdarah, menjadi daya tarik utama.

>>> Moral Ambiguity dalam Grave Seasons: Tidak Ada Jawaban Benar di Plot Pembunuhan Supernatural

"Grave Seasons benar-benar spesial karena kami tidak menahan elemen horornya," kata Emmett Nahil, narrative director dan salah satu pendiri Perfect Garbage, dalam wawancara di Summer Game Fest 2026.

Saya berkesempatan memainkan bagian awal game, di mana saya berjalan-jalan di ladang dan menggali beberapa petak untuk menanam wortel, tetapi tiba di Ashenridge dengan jumpsuit penjara yang mencolok.

Dari pengalaman singkat itu, mudah untuk menyimpulkan bahwa kota pastoral ini bukanlah pinggiran kota hijau biasa. Bukan pula pulau Animal Crossing yang menggemaskan.

Sebaliknya, pedesaan yang diciptakan Perfect Garbage berbeda: ada kematian dan tantangan emosional saat Anda mendefinisikan hidup baru sebagai mantan penjahat.

Satu Tahun untuk Mengungkap Pembunuh

Pemain memiliki waktu satu tahun dalam game untuk mencari tahu siapa pembunuh supernatural yang meneror Ashenridge, apakah pembunuh itu adalah cinta dalam hidup mereka, dan apa yang harus dilakukan dengan informasi tersebut.

Menyelamatkan dunia dan membuktikan bahwa Anda telah berubah? Atau terus menyiram tanaman seolah tidak terjadi apa-apa?

Nahil mengatakan, "Saya selalu ingin melihat lebih banyak moral ambiguity dalam narasi cerita." Grave Seasons tidak menawarkan jawaban mudah.

"Saya menemukan banyak penulisan game, ketika dibuat untuk audiens seluas mungkin, bisa jatuh ke dalam biner baik-versus-buruk.