Meski demikian, Iriawan menegaskan penyesuaian harga tidak dapat dilakukan secara instan.

Evaluasi harga dilakukan berdasarkan formula yang menggunakan data pergerakan harga minyak pada periode sebelumnya agar konsumen tidak terdampak fluktuasi harian yang tajam.

"Ada prosedurnya ya, karena minyak yang sekarang ini proses dari bulan yang lalu, dengan harga yang lalu. Turunnya berapa rupiah, nanti kita lihat ke depan.

Tapi insya Allah, doakan, mudah-mudahan bisa turun sesuai dengan harapan masyarakat," tambahnya.

Peluang penurunan harga BBM didukung oleh tren pelemahan harga minyak mentah di pasar global.

Pada pekan lalu, kontrak minyak mentah Brent tercatat turun hingga 10,6 persen.

Penurunan mingguan ketiga secara berturut-turut tersebut terjadi setelah adanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong peningkatan pengiriman minyak mentah melalui jalur pelayaran strategis ke level tertinggi sejak Februari.

Pada perdagangan Senin (29/6/2026), harga minyak mentah Brent berada di level US$72,51 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat diperdagangkan di kisaran US$69,94 per barel.

>>> Ghost of Yotei Dorong Lonjakan Turis ke Hokkaido, Merchandise Resmi Dirilis

Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata harga saat Pertamina memutuskan menaikkan harga BBM nonsubsidi sebelumnya.