Belakangan korban menduga alasan tersebut hanyalah modus. Ia mengaku baru mengetahui bahwa rekening tersebut justru dibuatkan kartu ATM TabunganKu tanpa sepengetahuannya, termasuk penentuan PIN yang diduga dilakukan oleh pelaku.

Rutin Menabung Selama Tiga Tahun

Sepanjang 2023 hingga 2025, korban mengaku terus menyetorkan dana ke rekening anaknya, baik melalui transfer maupun setoran tunai di kantor cabang saat jam operasional.

Untuk transaksi tunai, uang disebut selalu diserahkan kepada teller sehingga korban semakin yakin seluruh proses berjalan sesuai prosedur perbankan.

Dana Tidak Bisa Dicairkan Saat Jatuh Tempo

Permasalahan mulai terungkap ketika deposito dijanjikan jatuh tempo pada Juni 2025. Korban mengatakan pencairan terus mengalami penundaan dengan alasan adanya proses audit dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menurut pengakuannya, pelaku bahkan sempat menunjukkan bukti perjalanan dinas serta nomor antrean pencairan untuk meyakinkan bahwa dana akan segera diterima.

Karena mulai merasa ada kejanggalan, korban bersama suaminya mendatangi rumah terduga pelaku. Dalam pertemuan tersebut, korban mengklaim pelaku mengakui bahwa dana deposito sudah tidak tersedia karena digunakan untuk kepentingan pribadi.

Mutasi Rekening Ungkap Dugaan Penyimpangan Dana

Setelah meminta mutasi rekening kepada pihak bank, korban mengaku menemukan sebagian dana mengalir ke rekening pihak lain serta adanya sejumlah transaksi penarikan tunai.

Korban juga menyatakan sebagian slip setoran yang selama ini diterimanya diduga tidak sah sehingga tidak seluruh dana yang disetorkan benar-benar masuk ke rekening anaknya.

  • Total dana yang diakui disetorkan mencapai sekitar Rp987 juta.
  • Mutasi rekening disebut hanya mencatat dana sekitar Rp500 juta.
  • Sisanya diduga tidak pernah tercatat akibat penggunaan slip setoran yang diduga palsu.

Korban menilai dugaan penipuan tersebut sulit dikenali karena seluruh aktivitas dilakukan di kantor cabang bank, bahkan dirinya mengaku cukup sering datang hingga dikenal oleh pejabat yang memberikan persetujuan transaksi.

Proses Hukum dan Kompensasi

Korban mengungkapkan perkara tersebut sempat dilaporkan kepada aparat penegak hukum. Namun proses itu akhirnya dihentikan karena keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya yang dimiliki.

Ia juga mengaku menerima kompensasi dengan nilai yang jauh di bawah total kerugian setelah kisahnya ramai diperbincangkan di media sosial.

Hingga saat ini belum terdapat keterangan resmi dari seluruh pihak yang disebut dalam unggahan tersebut. Informasi mengenai kasus ini masih berdasarkan pengakuan korban yang dipublikasikan melalui media sosial, sementara klarifikasi dari pihak terkait masih dinantikan.