Senator Partai Republik, Lindsey Graham, memprediksi upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran akan berakhir gagal.

Ia menyebut Presiden Donald Trump siap mengambil langkah militer untuk menguasai Selat Hormuz jika negosiasi tidak membuahkan hasil.

in1

>>> Pembangkit Angin Raksasa Atasi Hambatan Lingkungan dengan Tinggikan Bilah Turbin di Atas Burung Kakaktua

Pernyataan itu disampaikan Graham dalam program Face the Nation di CBS. Ia menilai jalur diplomasi tetap perlu dicoba meski peluangnya kecil.

“Saya lebih memilih mencoba diplomasi daripada menghapusnya dari opsi. Tapi saya pikir ini akan gagal,” ujarnya seperti dikutip dari NY Post.

Menurut Graham, nota kesepahaman 14 poin yang membuka jalan bagi pembicaraan damai selama 60 hari hanya menjadi langkah awal.

Kegagalan perundingan dapat berujung pada tindakan koersif, termasuk kemungkinan konflik terbuka.

“Saya menghabiskan empat setengah jam dengan Presiden Trump. Jika kesepakatan ini gagal, Trump akan mengambil alih Selat Hormuz dengan paksa,” kata Graham.

>>> Stefan Posch Siap Perkuat Austria Hadapi Argentina di Piala Dunia 2026

Graham menambahkan bahwa AS akan merespons keras jika Iran menentang langkah tersebut. Ia bahkan menyebut Amerika Serikat siap menghancurkan Iran jika terjadi konfrontasi di jalur strategis itu.

Selat Hormuz Jadi Titik Krusial

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ketegangan geopolitik kembali menempatkan selat ini sebagai titik krusial global.

Trump juga memperingatkan Teheran agar tidak mengganggu stabilitas kawasan, termasuk melalui kelompok proksi seperti Hizbullah. Ia menegaskan akan memukul Iran sangat keras jika ancaman terhadap Israel terus berlanjut.

Di sisi lain, Graham optimistis Trump mampu mendorong normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel pada 2026.

Namun, ia menekankan bahwa langkah tersebut sulit terwujud tanpa terlebih dahulu menekan pengaruh Iran di kawasan.

>>> Rahang Patah Tak Halangi Stefan Posch Bela Austria Lawan Argentina

Masa depan perundingan damai akan menjadi penentu apakah konflik dapat dihindari atau justru meningkat ke eskalasi yang lebih besar.