Kinerja lebih dipengaruhi oleh pergerakan saham, obligasi, dan deposito dalam portofolio,” jelasnya.

>>> Indosat, Adobe, dan Kemenekraf Perluas Akses AI untuk Kreator Lokal

Menurut Ezra, pasar saat ini masih mencermati perkembangan harga energi global. Dampaknya terhadap prospek inflasi dan arah suku bunga ke depan juga menjadi perhatian.

Bagi investor domestik yang masih memegang dana dalam rupiah, Ezra menilai reksadana USD tetap layak dipertimbangkan.

Terutama bagi mereka yang memiliki tujuan investasi dalam mata uang dolar AS atau ingin menambah diversifikasi portofolio.

Ia menambahkan, secara umum reksadana yang berinvestasi pada instrumen pasar modal memiliki potensi imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan tabungan dolar AS di perbankan.

Namun, tetap disertai risiko fluktuasi nilai investasi.

Untuk mengelola risiko tersebut, investor dapat menerapkan strategi diversifikasi pada berbagai kelas aset.

Melakukan investasi secara berkala atau cost averaging juga disarankan agar portofolio lebih tahan terhadap gejolak pasar.

Terakhir, Ezra menjelaskan bahwa MAMI memiliki sejumlah produk reksadana berdenominasi dolar AS yang dapat menjadi pilihan investor.

Untuk kategori pasar uang, terdapat Manulife Indonesia Liquid Fund USD (MALIQ) yang berinvestasi pada deposito dolar AS dan obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar AS dengan tenor kurang dari satu tahun.

Sementara itu, untuk kategori pendapatan tetap tersedia Manulife USD Fixed Income (MANUFIX).

>>> Muhammad Kiandra Ramadhipa Cetak Sejarah di Moto3 Junior Estoril

Produk ini berfokus pada obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar AS (INDON) yang dipadukan dengan instrumen deposito dolar AS.