Daya tarik warnet juga memudar bagi kelompok gamer yang bertahan di jalur PC.

Dahulu, memiliki PC gaming di rumah pada tahun 2005 merupakan kemewahan yang setara dengan memiliki mobil di garasi, sehingga warnet hadir sebagai solusi kesetaraan teknologi.

Namun, situasi beberapa tahun terakhir berubah drastis karena pasar komponen komputer menjadi lebih kompetitif.

Prosesor dan kartu grafis kelas entry-level hingga mid-range kini sudah sangat bertenaga untuk menjalankan game modern seperti Valorant, Dota 2, atau Counter-Strike 2.

Kepemilikan PC pribadi yang dilengkapi koneksi internet serat optik membuat alasan pergi ke warnet sirna.

>>> Garena Rilis 50 Kode Redeem Free Fire Spesial Event Bola Hari Ini

Gamer kini dapat menggunakan keyboard mekanik milik sendiri yang bersih dan dapat disesuaikan, tanpa harus berbagi dengan ratusan orang asing.

Dampak Pandemi dan Transformasi iCafe

Kemunduran bisnis warnet semakin dipercepat oleh hantaman pandemi Covid-19.

Kebijakan lockdown dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat bisnis warnet gaming mati seketika karena ruang komunal tidak lagi diizinkan beroperasi.

Ketidakpastian masa berakhirnya pandemi memperburuk kondisi finansial pengusaha yang memilih bertahan.

Banyak pengusaha yang akhirnya gulung tikar, menjual komputer yang terpajang, serta mengangkut meja dan kursi untuk keperluan lain.

Musnahnya warnet gaming turut menghilangkan interaksi sosial nyata yang tidak bisa digantikan oleh PC rumahan berspesifikasi tinggi atau smartphone termahal.

Bagi sebagian gamer, warnet bertindak sebagai ruang sosial komunal tempat silaturahmi terjalin tanpa memandang status sosial.

Di tempat ini, anak SMP dapat bermain bersama mahasiswa atau pekerja kantoran tanpa sekat.

Ada kepuasan psikologis yang unik saat memenangkan pertandingan dan langsung berbalik badan untuk melihat tim lawan di seberang ruangan.