"I never imagined owning season tickets," ujar Greg Armstrong. Komitmennya membeli tiket musiman bermula ketika New York Knicks mendatangkan pelatih kepala baru pada tahun 1991 silam.

"It felt like a little bit of a status thing," ucap Greg Armstrong.

Kecintaannya terhadap Knicks juga mempertemukannya dengan sahabat sesama pendukung fanatik, Andy Baron, yang mendampinginya di tribun penonton.

"A Jewish guy from New Jersey and a Black kid from the Bronx," cetus Greg Armstrong.

Meskipun sering terlibat dalam perdebatan mengenai performa para pemain dari tahun ke tahun, kebersamaan mereka tetap terjaga demi mendukung New York Knicks.

>>> Achraf Hakimi Jadi Andalan Maroko Hadapi Brasil di Piala Dunia 2026

"I liked Melo," tutur Greg Armstrong.

Pernyataan tersebut langsung ditanggapi oleh Andy Baron yang memiliki pandangan berbeda mengenai kontribusi sang pemain di dalam tim.

"He wasn’t a team guy," timpal Andy Baron.

Perdebatan di antara keduanya tidak berhenti pada satu pemain saja, melainkan berlanjut ke nama lain yang sempat membela Knicks.

"But the guy we had heated discussions about was Julius Randle!" tegas Greg Armstrong.

Andy Baron pun membenarkan bahwa diskusi mengenai pemain tersebut berlangsung dalam waktu yang cukup lama di antara mereka.

"For the better part of four years!" aku Andy Baron.

Terlepas dari dinamika antarpendukung, loyalitas keluarga menjadi elemen penting dalam mempertahankan dukungan terhadap tim yang sempat terpuruk pada dekade lalu.

"I can’t think of a family event we love more than going to a Knicks game," kata Ross Baron, putra dari Andy Baron.

Bagi generasi muda pendukung Knicks, ikatan emosional ini telah menyatukan hubungan antarkeluarga penonton setia di Madison Square Garden.