Faktor Penghambat Kedatangan Suporter

Situasi ini mengindikasikan bahwa perkiraan gelombang besar kedatangan suporter ke kota-kota tuan rumah di Amerika Serikat belum sepenuhnya terjadi.

Analis industri perhotelan dan agen perjalanan mengidentifikasi beberapa faktor penghambat, seperti mahalnya tiket pertandingan, tingginya biaya tiket pesawat, dan terbatasnya opsi akomodasi murah.

Kebijakan menaikkan harga sewa selama momentum turnamen ini tidak hanya diterapkan oleh jaringan hotel mewah.

Penginapan kelas menengah dan ekonomis di sekitar wilayah pertandingan juga terpantau ikut mengerek tarif mereka secara signifikan.

Sebuah motel bintang dua, Super 8, yang terletak di tepi jalan raya empat lajur memasang tarif sebesar 500 dollar AS atau setara Rp 8,89 juta untuk malam final.

Sementara itu, jaringan hotel apartemen Extended Stay America mematok biaya menginap di atas 900 dollar AS atau sekitar Rp 16 juta per malam pada periode yang sama.

Berdasarkan laporan penelusuran, beberapa hotel kini mulai menurunkan tarif sewa untuk pertandingan fase grup karena rendahnya permintaan pasar.

Kendati demikian, harga tinggi tetap dipertahankan untuk pertandingan-pertandingan besar yang melibatkan tim-tim populer.

>>> Samsung Galaxy A35 5G Tetap Kompetitif di 2026, Ini Spek dan Kisaran Harganya

Kenaikan biaya akomodasi yang dinilai tidak masuk akal ini memicu respons negatif dari para pelanggan reguler.

Chris Andraka, seorang direktur operasional perusahaan manufaktur, memilih mengubah rencana perjalanannya setelah melihat lonjakan harga di tempatnya biasa menginap.

Hotel SpringHill Suites milik jaringan Marriott yang biasanya bertarif 300 dollar AS atau sekitar Rp 5,33 juta per malam, menaikkan harga menjadi 5.300 dollar AS atau setara Rp 94,23 juta per malam pada pekan ketiga Juli.