Media pemerintah Iran melaporkan arus pengiriman di Selat Hormuz tidak akan langsung normal.

Analis strategi investasi Raymond James, Pavel Molchanov, menilai situasi ini mirip dengan momentum dalam dua bulan terakhir.

"Namun secara umum, WTI masih bergerak dalam rentang terbatas sejak gencatan senjata 7 April, yakni di kisaran akhir US$80-an hingga awal US$100-an," jelasnya.

Pavel Molchanov memperkirakan normalisasi total jalur pelayaran Selat Hormuz baru terealisasi pada akhir Juli atau lebih lama, jika kesepakatan resmi diteken bulan ini.

Di sisi lain, Goldman Sachs memangkas proyeksi jangka panjang harga minyak. Tim analis yang dipimpin Daan Struyven melihat adanya pasokan kuat diiringi penurunan permintaan pada 2027.

Bank investasi global itu menurunkan estimasi rata-rata harga Brent tahun depan menjadi US$80 per barel dari prediksi awal US$85 per barel.

Potensi lonjakan produksi minyak diproyeksikan dari AS, Brasil, Guyana, Venezuela, dan Uni Emirat Arab.

Goldman Sachs juga menyoroti pelemahan permintaan minyak di China seiring percepatan adopsi kendaraan listrik.

Kendati demikian, Daan Struyven bersama timnya memperkirakan harga Brent masih bisa bertahan di rata-rata US$90 per barel pada kuartal IV/2026.

>>> My Royal Nemesis Episode 13-14  TAMAT sub Indo Serta Spoiler dan Link Bukan LK21 tapi di Netflix: Dal Su Berbicara Bersama Dan Sim di Sebuah Restoran

Penilaian ini didasarkan pada dampak gangguan di Selat Hormuz yang masih tertahan oleh defisit pasokan yang lebih ringan dari estimasi awal.